Balada Sebuah Rompi, Agar Malu Bila Korupsi

admin

- Redaksi

Minggu, 12 Januari 2020 - 01:07 WIB

40873 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di negeri ini, koruptor masih bisa bergaya trendi. Difoto, justru menebar senyum sana-sini. Perlu sebuah upaya, agar mereka menyadari. Korupsi itu perilaku busuk, bukan sebuah prestasi. Stigma itu, dimulai dari rompi.

Jaket putih berlogo KPK itu dipadukan dengan ikat pinggang besar berwarna hitam. Pada bagian bawah, ia mengenakan rok berwarna hitam-putih bermotif batik lengkap dengan sepatu hak tinggi yang berwarna hitam mengilap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penampilan Miranda Goeltom, terdakwa kasus suap cek pelawat terkait pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS) BI, menarik perhatian media kala itu. Meskipun jaket itu dibordir dengan tulisan “Tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi”, ia malah tetap terlihat modis. Padahal kebijakan agar tahanan KPK mengenakan jaket itu bertujuan agar mereka memiliki ciri khusus dan memberikan efek malu atas perbuatannya.

Menurut Ketua KPK saat itu, Abraham Samad, sejak dirilis pada 13 Juli 2012, jaket putih itu justru mendapat banyak kritik dari berbagai pihak yang meminta warna jaket itu diubah, mulai dari politisi hingga pelajar sekolah dasar.

“Warna putih dianggap tidak menimbulkan efek jera dan tidak membuat malu sama sekali. Banyak surat masuk ke KPK minta warna tersebut diganti.”

Baca Juga :  Dukung Program Pemerintah Pengelolaan Pemanfaatannya Lahan, TNI AL Laksanakan Penanaman Bibit Pohon

Lima tahun sebelum KPK menggunakan jaket putih, Koalisi Masyarakat Sipil pernah mengusulkan beberapa contoh pakaian tahanan KPK pada 12 Agustus 2008. Saat itu, para aktivis antikorupsi itu melakukan ‘peragaan busana’ dari area parkir Gedung KPK menuju ruang konferensi pers. Ketiga model mengenakan pakaian terusan berlengan dan bercelana panjang lengkap dengan rantai hitam dan pemberat yang melingkar di kakinya. Persis seperti narapidana di buku cerita.

Satu aktivis menggunakan baju berwarna oranye. Baju itu ia ‘sulap’ dari baju petugas kebersihan. Aktivis lain menggunakan baju berwarna merah, yang dimodifikasi dari seragam seorang montir. Aktivis terakhir, menggunakan baju praktik siswa SMK berwarna hitam sebagai baju tahanan. Pada bagian belakang ketiga baju tersebut, tertulis “Tahanan KPK”.

Setelah fenomena jaket modis tahanan KPK mencuat, KPK memikirkan ulang untuk mendesain lagi baju tahanan KPK pada pertengahan 2013. Pimpinan KPK menugaskan Kepala Bagian Rumah Tangga, Harry Hidayati untuk membuat desain rompi tahanan baru, berbekal rekomendasi dari Koalisi Masyarakat Sipil.

Harry lantas mendesain beberapa baju dengan berbagai pilihan warna seperti hijau, loreng-loreng, dan oranye. Akhirnya, Pimpinan KPK memilih warna oranye sebagai warna baru bagi seragam tahanan KPK.

Baca Juga :  Truk Pengankut Batu Terjungkal, Akibatnya Jalan Berastagi - Medan Mengalami Kemacetan Panjang

“Kami memilih warna oranye agar ketahuan, mereka adalah tahanan KPK. Kalau kabur, warna oranye ini mudah dikenali dan terang,” ujar Pimpinan KPK saat itu, Bambang Widjojanto.

Kemudian, rompi oranye itu diberi aksen satu garis hitam. Belakangan, muncul sebuah pendapat bahwa rompi tersebut harus memiliki tiga garis hitam, dan keputusan itu pun disetujui.

“Waktu itu kita sepakat kalau garis hitam di rompi tahanan harus tiga, untuk menandakan bahwa korupsi itu benar-benar kejahatan luar biasa,” kata Bambang.

Setelah disetujui, Harry pergi ke pasar Tanah Abang untuk membeli bahan baju. Ia mengeksekusi sendiri, membuat pola rompi, dan menjahitnya.

‘Seragam baru’ koruptor itu kemudian dirilis pada 24 Mei 2013 saat kegiatan lokakarya media di Sukabumi, Jawa Barat. Setelah dirilis, penggunaan rompi itu langsung diterapkan. Tersangka kasus korupsi impor daging Luthfi Hasan Ishaaq saat itu, menjadi orang pertama yang mengenakan rompi oranye tersebut saat diperiksa pada 28 Mei 2013 di Gedung KPK.

(Humas KPK)

 

Berita Terkait

Komandan Korem 032/Wbr Brigjen (TNI) Wahyu Eko Purnomo Gelar Coffee Morning Bersama Insan Pers
Persiapan Kejurda, Satgas Yonif 125/SMB Latih Ratusan Karateka Kabupaten Mappi
Pisah Sambut Pejabat Polres Simalungun Berlangsung Khidmat di Aula Andar Siahaan
Babinsa Desa Kalidawir Dukung Ketahanan Pangan Lewat Pendampingan Pertanian
Danrem 081/DSJ Kunker di Kodim 0801/Pacitan
Dandim 0418/Palembang Tinjau Lokasi Pembangunan RTLH Milik Bapak Eka Redana
Rekonsiliasi Internal Tingkat Satker Semester I TA 2024 UO TNI AL Di Tutup Di Kodiklatal
Cegah Kenakalan Remaja Babinsa Dekat Dengan Siswa Sekolah

Berita Terkait

Jumat, 12 Juli 2024 - 23:06 WIB

Komandan Korem 032/Wbr Brigjen (TNI) Wahyu Eko Purnomo Gelar Coffee Morning Bersama Insan Pers

Jumat, 12 Juli 2024 - 23:00 WIB

Persiapan Kejurda, Satgas Yonif 125/SMB Latih Ratusan Karateka Kabupaten Mappi

Jumat, 12 Juli 2024 - 21:52 WIB

Babinsa Desa Kalidawir Dukung Ketahanan Pangan Lewat Pendampingan Pertanian

Jumat, 12 Juli 2024 - 21:19 WIB

Danrem 081/DSJ Kunker di Kodim 0801/Pacitan

Jumat, 12 Juli 2024 - 21:11 WIB

Dandim 0418/Palembang Tinjau Lokasi Pembangunan RTLH Milik Bapak Eka Redana

Jumat, 12 Juli 2024 - 21:01 WIB

Rekonsiliasi Internal Tingkat Satker Semester I TA 2024 UO TNI AL Di Tutup Di Kodiklatal

Jumat, 12 Juli 2024 - 20:57 WIB

Cegah Kenakalan Remaja Babinsa Dekat Dengan Siswa Sekolah

Jumat, 12 Juli 2024 - 20:53 WIB

Satgas Yonif 323 Buaya Putih Wujudkan Papua Terang

Berita Terbaru

ACEH TIMUR

PUSS di Aceh Timur Jangan dicurangi, Kami Sudah Cukup Capek

Sabtu, 13 Jul 2024 - 02:58 WIB