pandita Majelis Buddhayana Indonesia Jateng mengikuti pelatihan dalam rangka peningkatan pelayanan masyarakat Buddha

Redaksi Jawa Tengah

- Redaksi

Kamis, 14 April 2022 - 11:00 WIB

40227 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JEPARA|AGARANEWS.COM Baru-baru ini, 75 orang pandita Majelis Buddhayana Indonesia Jateng mengikuti pelatihan dalam rangka peningkatan pelayanan masyarakat Buddha. Pelatihan berlangsung di gedung serba guna Dhammañana, kompleks Wihara Jaya Manggala di Dukuh Simo, Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara pada hari Minggu (10/4/2022).

Pada pelatihan tatap muka pertama kali setelah 2 tahun pembatasan sosial karena wabah korona, para peserta digembleng 5 pokok bahan ajar. Kegiatan yang diketuai U.P. Sutriman ini menghadirkan 5 orang narasumber untuk memantik mutu diri dan wawasan kepanditaan peserta.

Adapun bahan ajar yang disampaikan adalah: 1). “Sejarah Pandita Buddhayana”, oleh U.P. Henry Gunawan Chandra, Pengurus DPP MBI; 2). “Tata Susila Perumah Tangga”, oleh U.P. Katman Dhammananda, Ketua Lembaga Pandita Buddhayana Jateng; dan 3). “Tata Laksana Pandita Buddhayana”, oleh U.P. Henry Gunawan Chandra, Pengurus DPP MBI.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berikutnya bahan ajar lainnya adalah: 4). “Wewaler (serapan Bahasa Inggris: kode etik) Pandita Buddhayana”, oleh Bhante Jatiko Thera, Sekwil SAGIN Jateng; dan 5). “Buddhayana”, oleh Bhante Dhittisampanno Thera, Ketua STIAB Smaratungga, Boyolali.

Mutu Pelayanan Pandita
Dalam sambutan pembuka, Ketua MBI Jateng, U.P. Suroso Sadewaputra menyampaikan pesan, agar para peserta dapat menyerap bahan ajar dengan seksama. Hal ini karena pandita Buddhayana diharapkan mampu meningkatkan mutu diri untuk meningkatkan pelayanan masyarakat Buddha, khususnya di Jawa Tengah.

Selain itu, para peserta yang berasal dari Kabupaten Pati, Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Kudus juga mendapatkan dukungan semangat dengan dihadirinya sejumlah anggota Sangha dan pengurus KBI (Keluarga Buddhayana Indonesia). Tampak hadir pada acara ini, Bhante Aryakusalo Mahathera, perwakilan dari WBI (Wanita Buddhis Indonesia), dan Sekber PMVBI (Sekretariat Bersama, Persaudaraan Muda-Mudi Vihara Buddhayana Indonesia).

Sebanyak 75 pandita peserta pelatihan
Dari PUUI menjadi MUABI, dan kini MBI
Majelis Buddhayana Indonesia (berdiri tahun 1979) adalah kelanjutan dari wadah pandita yang semula bernama Majelis Upāsikā Pandita Buddha Indonesia atau MUABI. Sebelum berganti nama menjadi Majelis Upāsikā Pandita Buddha Indonesia, wadah ini sempat bernama Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia yang sama-sama dikenal dengan singkatan, MUABI. MUABI adalah wadah pandita yang merupakan kelanjutan dari PUUI (Persaudaraan Upāsikā Upāsikā Indonesia).

Baca Juga :  Pemerintah Aceh Luncukan Buku (D.O.A) Dana Otsus Abadi

PUUI sendiri adalah wadah pelayanan masyarakat Buddha yang didirikan pada bulan Juli 1956 di Wihara Buddha Gaya, Watu Gong, Semarang. Wadah ini berdiri atas prakarsa Bhante Ashin Jinarakkhita yang pada waktu itu duduk sebagai Dewan Pengawas Yayasan Buddha Gaya. Selain Bhante Ashin Jinarakkhita, terdapat dua anggota Dewas Pengawas Yayasan lainnya yang semula merupakan tokoh Gabungan Tri Dharma Indonesia.

Mereka berdua adalah: 1). Drs. Khoe Soe Kiam (Sasana Surya), Tokoh Tri Dharma; dan 2). Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka, filolog yang memeluk Buddha Dharma dan salah satu pendiri Fakultas Sastra di tiga universitas; yaitu Universitas Gajah Mada, Universitas Udayana, dan Universitas Indonesia.

Luhurkan Budaya Bangsa
Catatan sejarah menorehkan jejak, bahwa berdirinya PUUI yang kemudian disusul menjadi MUABI adalah salah satu terobosan penting. PUUI berdiri untuk menjembatani pelayanan masyarakat Buddha karena terbatasnya jumlah anggota Sangha waktu itu beserta peraturan latihannya. Pelayanan pertama dan utama seorang pandita adalah perikatan perkawinan yang menjadi syarat utama untuk dapat dicatatkan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Selanjutnya, para pandita juga berperan penting dalam pelayanan upacara suka cita dan duka cita terutama saat tidak dapat dihadiri anggota Sangha.
Dengan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan, para pandita telah berperan langsung dalam gerakan meluhurkan budaya bangsa. Mengutip Koentjaraningrat dalam “Kebudayaan Jawa” (1994), budaya berasal dari kata buddhayah (Sanskerta) yang berarti akal budi dan mempunyai 7 unsur. Seperti kita ketahui, Buddha Dharma bersama Ciwasidhanta, Pasupatha, Bairawa, Nirguna (Waisnawa atau Wisnu), Brahmana, Rsi, Sora, dan Ganapatya pernah menjadi pandangan hidup masyarakat Indonesia, sejak awal abad Masehi.

Baca Juga :  Poldasu Respon Laporan PKH Masyarakat Desa Hasang

Bhante Jatiko Thera saat mendadar pandita peserta pelatihan dengan bahan ajar, “Kode Etik (Wewaler) Pandita Buddhayana”
Namun, masa keemasan Buddha Dharma dan agama seperti tersebut di atas harus mematuhi hukum gilir gumanti saat tanah air memasuki peralihan zaman (kaliyuga) atau pada 1478 M seiring rubuhnya Wilwatikta-Majapahit. Saat itu, Buddha Dharma dikenal sebagai piwulang Boda atau Soghata atau lebih dikenal dengan nama Tantrayana Kasogatan.

Saking merasuknya Buddha Dharma hingga menjadi pandangan hidup, para wiku dan bujangga (pujangga) mendapatkan kepercayaan istimewa. Kepercayaan yang dimaksud adalah, mereka diangkat sebagai petugas pemungut pajak yang jujur dan dapat diandalkan di zaman pemerintahan Sri Rajasanagara atau Prabhu Hayam Wuruk.

Hal ini karena selain terpelajar dan bijaksana, para wiku dan bujangga dipercaya menjadi penasihat baik oleh raja (negara) maupun masyarakat. Rekam jejak peran penting pemimpin Buddha Dharma dilukiskan indah pada pustaka berjudul “Kakawin Deçawarnana” atau lebih dikenal sebagai “Nāgarakṛtâgama” karya Mpu Prapanca.

Pendadaran pandita kali ini adalah langkah kecil masyarakat Buddha untuk menunjukkan mutu kecendekiawanan sekaligus kepemimpinan di tengah kehidupan modern dengan segala tantangannya. Kini 75 pandita peserta pelatihan harus mampu menjadi teladan dalam pelayanan masyarakat Buddha. Sehingga ke depan dapat menjawab pertanyaan yang sering dilontarkan Bhante Ashin Jinarakkhita dalam berbagai kesempatan, “Sanggup mengembalikan semangat kejayaan (Wilwatikta) Majapahit?”

Biro jepara : Sutriman

Red.              : Hans

Berita Terkait

Presiden Jokowi Belanja Buah dan Sayur di Pasar Buah Berastagi
Cepat tanggap Satgas Yonif 122/Tombak Sakti Bantu Evakuasi Ibu Hamil ke Rumah Sakit
 Sat Lantas Polres Tanjung Balai Gelar Blue Light Patrol Cegah Ugal Ugalan dan Kejahatan Jalanan
Pos Napan Satgas Yonkav 6/Naga Karimata Berikan Bantuan Sembako Kepada Masyarakat
Sigap,..!!! Anggota Pos Pelayanan Ops Ketupat Polres Tanah Karo Berikan Pertolongan Pertama Laka Lantas
Polres Tanah Karo Lakukan Pengamanan Saat Presiden RI, Jokowi Berkunjung Ke Pasar Buah Berastagi
Satgas Yonif 509 Kostrad Gerak Cepat Bantu Truck Masyarakat Yang Ambles
Pasca Lebaran, Polres Tebingtinggi Tingkatkan Pengamanan Jalur Lintas

Berita Terkait

Minggu, 14 April 2024 - 14:59 WIB

Presiden Jokowi Belanja Buah dan Sayur di Pasar Buah Berastagi

Minggu, 14 April 2024 - 14:51 WIB

Cepat tanggap Satgas Yonif 122/Tombak Sakti Bantu Evakuasi Ibu Hamil ke Rumah Sakit

Minggu, 14 April 2024 - 14:47 WIB

 Sat Lantas Polres Tanjung Balai Gelar Blue Light Patrol Cegah Ugal Ugalan dan Kejahatan Jalanan

Minggu, 14 April 2024 - 14:27 WIB

Pos Napan Satgas Yonkav 6/Naga Karimata Berikan Bantuan Sembako Kepada Masyarakat

Minggu, 14 April 2024 - 14:21 WIB

Sigap,..!!! Anggota Pos Pelayanan Ops Ketupat Polres Tanah Karo Berikan Pertolongan Pertama Laka Lantas

Minggu, 14 April 2024 - 12:09 WIB

Satgas Yonif 509 Kostrad Gerak Cepat Bantu Truck Masyarakat Yang Ambles

Minggu, 14 April 2024 - 12:05 WIB

Pasca Lebaran, Polres Tebingtinggi Tingkatkan Pengamanan Jalur Lintas

Minggu, 14 April 2024 - 12:02 WIB

Polsek Padang Hilir Laksanakan Patroli Dialogis, Cegah Kriminalitas Dan Cek SPBU

Berita Terbaru

HEADLINE

Presiden Jokowi Belanja Buah dan Sayur di Pasar Buah Berastagi

Minggu, 14 Apr 2024 - 14:59 WIB