Catatan: Lia Hambali, AgaraNews. Com // Daerah segitiga Kabupaten Agam, Lima Puluh Kota, dan Tanah Datar, dianggap sebagai poros awal persebaran Kebudayaan Minangkabau. Tinjauan sejarah mempercayai ketiga daerah yang pada masa lampau berjuluk ‘luhak nan tigo’ ini merupakan pemukiman awal dari masyarakat Minangkabau atau disebut pula wilayah darek (daratan).
Pada wilayah ini pula, di masa lalu berdiri sebuah pemerintahan konfederasi yang disebut sebagai Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan yang terbentuk dari gabungan nagari-nagari ini runtuh setelah terjebak dalam siasat kolonial Belanda saat perang Padri bergejolak.
Istana ini pernah terbakar pada tahun 1804, 1966 dan 2007
Istana ini terletak di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanah Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar.
Istana ini merupakan kediaman Raja Alam, sekaligus Pusat Pemerintahan Kerajaan Pagaruyung.
Ruangan lantai teratas disebut Anjung Peranginan, tempat Raja bersantai dan mengawasi sekeliling Istana.
Bagian samping dari lantai utama merupakan kamar Raja dan tamu Kerajaan.
Istana ini sempat beberapa kali hangus terbakar, renovasi terakhir selesai pada akhir 2012 dan diresmikan 30 Oktober 2013. Istana Basa Pagaruyung berbentuk sebuah rumah panggung bertingkat tiga dengan 72 tonggak dan 11 Gonjong
Anjung Peranginan disebut pula Gonjong Mahligai karena berada tepat di bawah atap Gonjong yang terletak di tengah. Di sisi belakang Singgasana terdapat tujuh buah kamar bagi para putri Raja yang telah menikah.
Istano Basa Pagaruyung merupakan salah satu jejak kemegahan kerajaan yang pernah berkuasa di Minangkabau
Tunggak Tuo adalah tiang terbesar yang pertama didirikan saat membangun rumah gadang, letaknya ada di tengah ruangan. Bagian tengah ruangan lantai utama berfungsi sebagai Singgasana bagi Raja Alam.
Istana ini pernah beberapa kali terbakar yakni pada tahun 1804, 1966 dan 2007
Istana ini terletak di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanah Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar ini merupakan kediaman Raja Alam, sekaligus Pusat Pemerintahan kerajaan Pagaruyung.
Istano Basa Pagaruyung merupakan salah satu peninggalan sejarah yang masih tersisa dari eksistensi kekuasaan Kerajaan Pagaruyung pada masa lampau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sesuai dengan namanya, istana ini mengabadikan kemegahan arsitektur dari Pusat Pemerintahan Kerajaan. Meskipun wujud yang berdiri megah sekarang ini bukanlah bangunan aslinya, namun berbagai detail ciri khas arsitektur yang dimilikinya masih sama seperti kondisinya di masa lampau.
Istano Basa Pagaruyung dahulu merupakan kediaman dari Raja Alam, sekaligus pusat pemerintahan dari sistem konfederasi yang dipimpin oleh triumvirat (tiga pemimpin) berjuluk ‘Rajo Tigo Selo’.
Sistem kepemimpinan ini menempatkan Raja Alam sebagai pemimpin Kerajaan dengan dibantu dua wakilnya, yaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo serta Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus. Kedua wakil ini memutuskan berbagai perkara yang berkaitan dengan permasalahan adat serta agama.
Itulah sekelumit cerita tentang Istano Basa Pagaruyung yang cukup kesohor pada masanya, kini cerita tersebut tinggal sejarah namun kemegahan Istano Basa Pagaruyung tetap dilestarikan oleh Pemerintah setempat bahkan menjadi tujuan wisata utama di Tanah Datar.
Bila kita ingin berkunjung ke Istano Basa Pagaruyung jarak yang ditempuh dari Bukit Tinggi sekitar 1 jam berkendaraan, dan tiket masuk ke Istana hanya Rp 10.000/orang, Nah anda penasaran,..??? Silahkan berkunjung ke Istano Basa Pagaruyung selain refreshing kita juga bisa mengetahui sejarah Kerajaan di Nusantara khususnya Sumatra Barat.
Disadur : Dari berbagai sumber


































