Catatan, AgaraNews.com // “Titip anak-anak… Tolong aku dibimbing tahlil…”
— Ucapan terakhir Jenderal Besar Soedirman
Di penghujung Januari 1950, udara Magelang terasa sejuk, tapi juga sarat duka. Di sebuah wisma tentara di Badakan, tubuh ringkih yang pernah memimpin ribuan prajurit di hutan-hutan Jawa itu berbaring lemah. Dialah Panglima Besar Jenderal Soedirman, sang penegak kehormatan republik, yang kini berhadapan dengan musuh terakhirnya: penyakit yang perlahan menggerogoti paru-parunya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa tahun sebelumnya, Soedirman berjalan tertatih memasuki rumahnya di Bintaran Wetan, Yogyakarta. Dari medan tempur Madiun, ia kembali dengan batin luka menyaksikan rakyat Indonesia saling menumpahkan darah dalam pemberontakan 1948. Kepada istrinya, Siti Alfiah, ia berkata lirih bahwa matanya tak sanggup terpejam melihat sesama bangsa saling menebas.
Malam itu ia mandi dengan air dingin, menolak saran istrinya untuk memakai air hangat. Sebuah keputusan kecil yang membawa malapetaka besar. Esoknya, sang Jenderal jatuh sakit. Dokter mendiagnosis tuberkulosis paru-paru, dan meski satu paru-parunya akhirnya diistirahatkan lewat operasi, semangatnya tetap menyala. Bahkan di atas ranjang rumah sakit, ia sempat menulis sajak berjudul “25 Tahun Rumah Nan Bahagia” ungkapan terima kasihnya kepada para perawat di Panti Rapih.
Namun, panggilan tanah air tak pernah padam di dadanya.
Ketika agresi militer Belanda meletus pada 19 Desember 1948, Soedirman menolak beristirahat. Dengan tubuh separuh sehat, ia memimpin perang gerilya dari atas tandu selama delapan bulan. Hujan, lapar, dan ancaman peluru tak mampu menundukkan tekadnya. Ia tetap menjadi lambang hidup keteguhan bangsa.
Setelah Belanda menyatakan gencatan senjata pada Oktober 1949, tubuh Soedirman kian rapuh. Ia memilih beristirahat di lereng Magelang, memandang Gunung Sumbing dari kejauhan. Tapi firasatnya berkata lain. Pada 18 Januari 1950, ia memanggil para petinggi tentara, di antaranya Ahmad Yani dan Gatot Soebroto. Ia berpesan dengan suara tenang, seolah tahu ajalnya kian dekat.
Pagi 29 Januari 1950, wajahnya tampak cerah. Menjelang malam, setelah menunaikan salat magrib, Soedirman memanggil istrinya ke sisi ranjang.
Dengan suara parau, ia berbisik:
“Bu, aku sudah tidak kuat. Titip anak-anak. Tolong aku dibimbing tahlil.”
Siti Alfiah menuntunnya melafazkan Laa ilaha illallah. Dalam pelukan perempuan yang selalu setia menemaninya, Jenderal Besar Soedirman menghembuskan napas terakhirnya dengan nama Allah di bibirnya, dan Indonesia di dadanya.
Di halaman rumah, bendera merah putih turun setengah tiang dengan sendirinya. Seolah alam ikut berduka, memberi hormat terakhir kepada panglima suci yang tak pernah menyerah pada sakit, perang, atau nasib.(Lia Hambali)
“Jasamu abadi, Jenderal.”
#Soedirman #PanglimaBesar #PahlawanNasional #PerangGerilya #IndonesiaMerdeka #SejarahBangsa #PengorbananTanpaBatas.


































