Kutacane – agaranews.com, online// Ketua Dewan Komando Daerah (DKD) LSM Kaliber Aceh, Zoel Kenedi, menegaskan bahwa pembangunan irigasi melalui Instruksi Presiden (Inpres) bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan bagian penting dari strategi besar ketahanan pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut ZK, program ketahanan pangan yang menjadi prioritas Presiden Prabowo hanya bisa berjalan maksimal jika daerah-daerah penghasil pangan diberi dukungan penuh, termasuk Aceh Tenggara yang selama ini menjadi salah satu sentra pertanian di wilayah tenggara Aceh.
“Program Presiden Prabowo Subianto tentang ketahanan pangan nasional adalah program yang harus kita dukung bersama. Ketersediaan irigasi adalah kunci utama. Tanpa air, tidak ada pertanian. Tanpa pertanian yang kuat, mustahil kita bicara ketahanan pangan,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
ZK menegaskan, Aceh Tenggara memiliki potensi besar menjadi salah satu daerah yang mendukung tercapainya swasembada pangan nasional. Namun potensi itu hanya bisa diwujudkan apabila seluruh saluran irigasi—baik yang rusak maupun yang tertunda pembangunannya—segera disentuh oleh pemerintah.
Zoel Kenedi mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, terdapat 16 paket Inpres irigasi yang direncanakan untuk Provinsi Aceh. Namun hingga saat ini, baru tiga paket yang mulai berjalan di beberapa kabupaten.
“Jika seluruh 16 inpres irigasi itu dilaksanakan, Aceh Tenggara bisa berkontribusi lebih besar untuk program ketahanan pangan nasional. Kami di daerah siap mendukung kebijakan Presiden Prabowo sepanjang pembangunan menyentuh kebutuhan rakyat, terutama petani,” tegasnya lagi.
Irigasi: Fondasi untuk Meningkatkan Hasil Panen
ZK menjelaskan bahwa sekitar 65 persen masyarakat Aceh Tenggara menggantungkan hidup dari bertani. Karena itu, pembangunan irigasi tidak hanya relevan dengan hajat hidup lokal, tetapi juga relevan dengan visi nasional.
“Ketahanan pangan bukan hanya tentang stok beras nasional. Ini tentang memberi ruang bagi petani kita untuk hidup layak, meningkatkan produksi, dan memastikan tidak ada lagi kekurangan air di musim tanam,” katanya.
Ia juga menilai bahwa arah kebijakan Presiden Prabowo memperkuat komoditas pertanian strategis—seperti padi, jagung, dan hortikultura—sangat tepat. Namun, tanpa perbaikan irigasi, target-target besar itu akan sulit tercapai di daerah-daerah yang secara geografis menantang seperti Aceh Tenggara.
Harapan ZK: Aceh Tenggara Tidak Boleh Tertinggal
ZK menegaskan bahwa pembangunan di Aceh Tenggara tidak boleh dianggap sebagai pinggiran hanya karena wilayah ini berada di sekitar TNGL atau memiliki keterbatasan ruang.
“Justru karena kondisi geografis Aceh Tenggara unik, maka pembangunan harus lebih diperhatikan. Pertanian adalah nadi utama daerah ini. Di sinilah kontribusi Aceh Tenggara untuk ketahanan pangan nasional dapat diwujudkan,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah provinsi dan pemerintah pusat menjadikan Aceh Tenggara sebagai salah satu prioritas dalam pembangunan irigasi dan program pertanian berkelanjutan.
“Presiden Prabowo sudah membuka jalan lewat program ketahanan pangannya. Tinggal bagaimana pemerintah daerah menangkap peluang ini dan memastikan masyarakat kita menjadi penerima manfaat,” tutup ZK.
































