Ketenangan Berganti Kegelisahan Karena Adanya Rencana Pembangunan (PLTP) Di Kaki Gunung Gede Pangrango

LIA HAMBALI

- Redaksi

Minggu, 11 Januari 2026 - 21:44 WIB

5053 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Cianjur – Minggu, 11 Januari 2026, AgaraNews.com // Pagi di Desa Cipendawa selalu dimulai dengan suara air. Mengalir dari sela-sela bebatuan di kaki Gunung Gede–Pangrango, air itu menghidupi sawah, kebun, dan dapur-dapur warga. Bagi para petani di desa ini, air bukan sekadar kebutuhan, melainkan penanda hidup yang diwariskan turun-temurun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, belakangan, ketenangan itu digantikan kegelisahan. Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) geotermal di kawasan Gunung Gede–Pangrango membuat warga bertanya-tanya: sampai kapan mata air ini akan tetap mengalir?

Kegelisahan itu mengemuka saat rombongan Media Independen Online (MIO) Indonesia singgah di Cipendawa. Kunjungan tersebut terjadi secara insidental, seusai Ketua Umum MIO Indonesia AYS Prayogie menghadiri Kongres Daerah (Kongresda) I MIO Indonesia Pengurus Daerah Jakarta Timur. Seusai agenda organisasi, rombongan menyempatkan diri menyapa warga dan petani setempat.

Dipimpin AYS Prayogie, rombongan yang juga diikuti Wakil Ketua Umum Ir Agung Karang, Ketua MIO Provinsi DKI Jakarta Gito Ricardo, serta Ketua MIO Jakarta Timur S. Erfan Nurali, awalnya ingin melihat langsung kondisi pertanian warga. Namun, obrolan sederhana di pematang sawah berubah menjadi ruang curahan hati.

Seorang petani paruh baya menunjuk aliran air kecil di tepi ladangnya.

“Dari sinilah kami hidup,” katanya lirih. Ia khawatir pengeboran panas bumi akan mengubah aliran air yang selama ini tak pernah kering, bahkan di musim kemarau.

Bagi warga Cipendawa, Gunung Gede Pangrango bukan hanya lanskap indah atau kawasan konservasi. Gunung itu adalah penyangga kehidupan—tempat air disimpan, tanah dijaga, dan hasil panen dititipkan pada keseimbangan alam. Kekhawatiran mereka bukan tanpa alasan. Aktivitas eksplorasi geothermal dikhawatirkan memicu penurunan debit mata air, merusak lahan pertanian, hingga meningkatkan risiko longsor di wilayah yang dikenal rawan bencana.

Di antara para petani, kegelisahan juga dirasakan para ibu rumah tangga. Air bersih yang selama ini mengalir ke rumah-rumah menjadi penopang kebutuhan harian. “Kalau air berkurang, kami mau ambil dari mana?” ujar seorang warga.

Mendengar cerita-cerita itu, AYS Prayogie menegaskan bahwa pembangunan, termasuk energi terbarukan, tidak boleh berjalan dengan mengabaikan suara warga. Menurut dia, keberlanjutan sejati hanya dapat terwujud jika lingkungan dan ruang hidup masyarakat tetap terlindungi.

“Energi bersih seharusnya membawa harapan, bukan ketakutan. Jika rakyat merasa terancam, maka ada yang perlu ditinjau ulang,” ujarnya.

Warga Cipendawa kini memilih menjaga apa yang mereka miliki: air, tanah, dan gunung.

Bersama jaringan masyarakat di Cianjur, mereka menyuarakan penolakan terhadap proyek geotermal dan meminta pemerintah membuka ruang dialog serta kajian lingkungan secara transparan.

Bagi mereka, perjuangan ini bukan tentang menolak kemajuan, melainkan tentang mempertahankan kehidupan.

Di kaki Gunung Gede Pangrango, air yang terus mengalir menjadi pengingat bahwa alam dan manusia terikat dalam satu napas yang sama.(Lia Hambali)

Penulis : Solihin
Editor : Bang Edo

Sumber :
Humas MIO Indonesia
PW Provinsi DKI Jakarta

Reporter : Redaksi Pusat

Berita Terkait

Kapolda Aceh Pimpin Upacara di Kutacane, Gaungkan “Sepakat Segenep” untuk Bangkitkan Aceh Tenggara
Babinsa Koramil 05/Darul Makmur Dorong Pemanfaatan Lahan Tidur untuk Ketahanan Pangan
Babinsa Gotong Royong Renovasi Masjid, Wujudkan Tempat Ibadah yang Nyaman
Perkuat Solidaritas Prajurit, Dandim 0209/Labuhanbatu Laksanakan Silaturahmi ke Jajaran Koramil
Dandim 0116 Nagan Raya Pimpin Upacara 17-an Dilanjutkan Jam Komandan
Babinsa Koramil 08/RP Hadiri Musrenbang dan Remuk Stunting Kelurahan Urung Kompas
Babinsa Koramil 09/NL Hadiri Musdes RKPD dan Penanganan Stunting TA 2026 di Desa Pangkatan  
Babinsa Koramil 02/TL hadiri acara Musrenbang Desa Teluk Pulai Dalam.  

Berita Terkait

Senin, 19 Januari 2026 - 18:05 WIB

Kapolda Aceh Pimpin Upacara di Kutacane, Gaungkan “Sepakat Segenep” untuk Bangkitkan Aceh Tenggara

Senin, 19 Januari 2026 - 14:04 WIB

Babinsa Koramil 05/Darul Makmur Dorong Pemanfaatan Lahan Tidur untuk Ketahanan Pangan

Senin, 19 Januari 2026 - 14:01 WIB

Babinsa Gotong Royong Renovasi Masjid, Wujudkan Tempat Ibadah yang Nyaman

Senin, 19 Januari 2026 - 13:57 WIB

Perkuat Solidaritas Prajurit, Dandim 0209/Labuhanbatu Laksanakan Silaturahmi ke Jajaran Koramil

Senin, 19 Januari 2026 - 13:46 WIB

Dandim 0116 Nagan Raya Pimpin Upacara 17-an Dilanjutkan Jam Komandan

Senin, 19 Januari 2026 - 13:41 WIB

Babinsa Koramil 09/NL Hadiri Musdes RKPD dan Penanganan Stunting TA 2026 di Desa Pangkatan  

Senin, 19 Januari 2026 - 13:37 WIB

Babinsa Koramil 02/TL hadiri acara Musrenbang Desa Teluk Pulai Dalam.  

Senin, 19 Januari 2026 - 13:33 WIB

Patroli Preventif TNI–Ormas, Kodim 0209/Labuhanbatu Jaga Kondusifitas Panai Hilir

Berita Terbaru

ACEH TENGGARA

Dandim 0116 Nagan Raya Pimpin Upacara 17-an Dilanjutkan Jam Komandan

Senin, 19 Jan 2026 - 13:46 WIB