KUTACANE ,agaranews.com//
Awal tahun 2026 membawa kabar mengkhawatirkan bagi Kabupaten Aceh Tenggara. Dalam kurun waktu kurang dari dua pekan, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) setempat telah menangani lima kasus kekerasan terhadap anak. Yang paling memprihatinkan, sebagian besar merupakan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua P2TP2A Aceh Tenggara, Erda Rina Pelis, mengungkapkan bahwa empat dari lima kasus tersebut adalah pelecehan seksual, sementara satu lainnya berupa penganiayaan terhadap anak.
“Memasuki Januari 2026, kami sudah menangani lima kasus. Empat di antaranya pelecehan seksual terhadap anak, satu kasus penganiayaan,” ujar Erda Rina Pelis kepada poskotasumatra.com, Senin (14/01/2026).
Lebih mengejutkan lagi, tiga dari empat kasus pelecehan seksual itu diduga dilakukan oleh ayah tiri korban. Sementara satu kasus lainnya melibatkan seorang remaja sebagai pelaku. Seluruh korban merupakan anak di bawah umur.
Tak Hanya Hukum, Trauma Anak Jadi Fokus Utama
P2TP2A Aceh Tenggara tidak hanya bergerak dalam aspek hukum. Pendampingan psikologis intensif diberikan kepada para korban untuk membantu memulihkan trauma mendalam yang mereka alami. Pendampingan juga dilakukan terhadap pelaku guna menelusuri akar penyebab kekerasan.
“Kami mendampingi korban agar pulih secara mental. Di sisi lain, pelaku juga kami dampingi untuk mengetahui penyebab utama, agar kejadian serupa tidak kembali terulang,” jelas Erda.
Gerakan Pencegahan hingga ke Desa dan Sekolah
Sebagai langkah pencegahan, P2TP2A akan memperluas gerakan edukasi ke desa-desa. Penyuluhan tentang bahaya kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak akan digelar secara berkelanjutan.
Pendekatan juga dilakukan kepada tokoh masyarakat, alim ulama, dan pendeta, guna membangun benteng moral sosial di tengah masyarakat.
Di sisi lain, sekolah diminta memperketat pengawasan. Mulai dari SD hingga SMA, pihak sekolah diimbau aktif mengawasi perilaku siswa dan lingkungan sekolah, termasuk pemeriksaan tas sesuai ketentuan.
Seruan Bersama: Lindungi Anak, Selamatkan Masa Depan
Erda Rina mengajak seluruh elemen masyarakat — orang tua, guru, tokoh agama, mahasiswa, hingga pemerintah daerah — untuk bergandeng tangan melawan kekerasan terhadap anak dan perempuan.
“Anak adalah masa depan Aceh Tenggara. Jika mereka tidak kita lindungi hari ini, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan daerah ini,” tegasnya. Ady Gegoyong
































