Simbol Harmoni Beragama Tanpa Dibumbui Moderasi

LIA HAMBALI

- Redaksi

Rabu, 28 Januari 2026 - 23:08 WIB

5049 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd alumni Pascasarjana Unlam Banjarmasin

Opini, AgaraNews.com //.Menteri Agama (Menag) meninjau progres pembangunan fasilitas rumah ibadah di IKN beberapa waktu lalu. Menag memastikan percepatan pembangunan sarana peribadatan yang akan menjadi pusat spiritualitas sekaligus simbol kerukunan umat beragama. Pasalnya rumah ibadah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu dirancang untuk berdampingan secara harmonis di IKN. Terkhusus gereja akan dilengkapi dengan fasilitas pendukung di antaranya Gedung Kolaborasi Lintas Agama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menag berharap fasilitas publik ini bisa segera rampung agar dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan pegawai di IKN. Apalagi sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramadan. Harapannya, jika sudah rampung, masyarakat bisa langsung memanfaatkannya untuk beribadah dan memperkuat ukhuwah di lingkungan IKN. Pembangunan kompleks rumah ibadah ini diharapkan menjadi potret nyata dari visi Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi dan moderasi beragama di tengah modernitas.

Akidah Terancam Moderasi

Kalimantan Timur (Kaltim) sejauh ini bisa dikatakan kondusif meski masyarakatnya dikenal heterogen. Diresmikannya IKN di sini tentu berpengaruh terhadap masyarakat lokal, kekhawatiran akan terpinggirkan dari pendatang tentu ada. Hanya saja bukan dari aspek agama, tetapi dari ruang keilmuan, pekerjaan dan kepemilikan tanah.

Kilas balik ke belakang, Kaltim meski heterogen tidak pernah terjadi kerusuhan khususnya berdasarkan SARA. Artinya jika moderasi digalakkan, salah satunya dengan realisasi rumah ibadah berdampingan dan gedung kolaborasi lintas agama justru salah kaprah. Apalagi daerah IKN yang justru permasalahan lahanlah yang urgen diselesaikan.

Jangan kambinghitamkan demi kondusif arus moderasi digalakkan. Padahal persoalan lain begitu nampak di depan mata. Moderasi samar berbahaya karena dengan cara halus melanggengkan sistem Kapitalisme Sekulerisme. Kaltim dengan kekayaannya akan terus dieksploitasi oleh sistem kapitalisme. Kapitalisasi dengan turunan yang lahir darinya, yakni moderasi, toleransi dan pluralisme agama justru membahayakan.

Negara pun memasifkannya padahal masalah masyarakat terletak pada gaya hidup yang semakin jauh dari Islam. Kapitalisme sekulerisme semakin menumbuhkan problematika umat, kemaksiatan dan kriminalitas serta bencana. Konflik bukan terjadi pada keberagaman itu sendiri, melainkan pada kesalahan dalam memahami dan menyikapinya.

Pluralisme agama telah menyusup dalam wacana toleransi dan jika dibiarkan akan mengikis akidah umat secara sistematis dan halus. Umat Islam tidak perlu diajarkan toleransi yang mengaburkan akidah. Kita menghormati perbedaan tetapi bukan menyamakan semua agama.

Islam Simbol Persatuan

Bukan siar moderasi beragama dijadikan acuan, tetapi fakta sejarah ketika Islam diterapkan secara kaffah, toleransi dan kedamaian antar beda agama dapat terwujud. Sebagaimana firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS Al-Baqarah [2]: 208).

Allah Swt memerintahkan kita untuk mengamalkan Islam secara kaffah, ajaran Islam yang dicontohkan dan dibawa Rasulullah Muhammad Saw bukan Islam moderat. Islam tidak mengenal istilah moderasi beragama.

Allah memerintahkan kita mengambil seluruh bagian Islam dalam Alquran, bukan malah terjebak dengan istilah moderat yang Barat ciptakan. Mencampuradukkan pemahaman Islam dengan pemikiran Barat justru bertentangan dengan Islam.

Dengan demikian, tidak perlu menggalakkan moderasi beragama agar tercipta harmoni beragama. Cukup amalkan Islam dalam kehidupan harmoni beragama akan terwujud.

Islam mengakui, menghormati, dan mengatur keberagaman sebagai bagian dari sunnatullah (ketetapan Allah). Namun, Islam juga memberikan batasan agar keberagaman itu tidak menjadi sumber permusuhan atau kerusakan. Islam menegaskan bahwa kebenaran agama hanya satu, yaitu Islam. Islam tidak menerima pandangan bahwa semua agama benar dan setara, apalagi mengarah pada pencampuradukan akidah (sinkretisme).

Berdasarkan sirah, harmoni beragama justru terwujud tanpa moderasi. Di masa Rasulullah di Makkah (Masyarakat Musyrik). Rasulullah berdakwah di tengah masyarakat Quraisy yang mayoritas musyrik dan penyembah berhala. Islam tumbuh sebagai minoritas, namun tetap menyerukan kebenaran dengan damai di awal-awal dakwah. Islam mengakui keberagaman, tetapi tetap menjaga kemurnian akidah dan tidak kompromi dalam keyakinan.

Selanjutnya, masa Rasulullah di Madinah (masyarakat majemuk). Setelah hijrah, Nabi memimpin negara Madinah yang terdiri dari: Kaum Muhajirin, Kaum Anshar, Kaum Yahudi (Bani Qainuqa’, Nadhir, Qurayzhah), dan Orang-orang musyrik. Nabi membuat Piagam Madinah, yaitu kesepakatan hidup berdampingan secara damai antara berbagai kelompok.

Selanjutnya di masa Kekhilafahan di bawah kepemimpinan Khulafaur Rasyidin dan dinasti Islam setelahnya, Islam mengelola wilayah luas yang penuh keberagaman: Ada umat Nasrani, Yahudi, Zoroaster (Majusi), dan lain-lain. Ada berbagai etnis: Arab, Persia, Afrika, Turki, India, dll. Non-Muslim (dzimmi) mendapat perlindungan hak hidup, harta, ibadah, dan tempat tinggal, dengan kewajiban membayar jizyah. Mereka pun tidak dipaksa masuk Islam.

Demikianlah wujud nyata persatuan ketika Islam
diterapkan. Simbol harmoni beragama tanpa dibumbui moderasi. Oleh karena itu seharusnya umat menyikapi pemindahan IKN dan sekelumit yang menyertainya dengan kaca mata Islam, jangan terjebak moderasi beragama yang justru mengancam akidah.
Wallahu’alam…( Lia Hambali)

Berita Terkait

Percepatan Pembagunan Jembatan Aramco TNI terus bersinergi dengan masyarakat
Babinsa Tinjau penjual Bahan pokok dan sayuran di pekan Tradisional
Babinsa Koramil 02/Seunagan Bantu Petani Panen Cabai Rawit Di Desa Binaan
Babinsa Koramil 05/Darul Makmur Laksanakan Komsos dengan Warga Desa Binaan
Babinsa Jalin komsos dengan pedagang ikan
Pererat Silaturahmi, Babinsa Lakukan Komsos dengan Tokoh Pemuda
Babinsa Posramil Kuala Pesisir Laksanakan Pendampingan Program MBG di Desa Langkak
TNI dan Warga Cor Tiang Pondasi Jembatan Gantung Garuda di Desa Binaan

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 12:24 WIB

Percepatan Pembagunan Jembatan Aramco TNI terus bersinergi dengan masyarakat

Sabtu, 18 April 2026 - 12:21 WIB

Babinsa Tinjau penjual Bahan pokok dan sayuran di pekan Tradisional

Sabtu, 18 April 2026 - 12:18 WIB

Babinsa Koramil 02/Seunagan Bantu Petani Panen Cabai Rawit Di Desa Binaan

Sabtu, 18 April 2026 - 12:16 WIB

Babinsa Koramil 05/Darul Makmur Laksanakan Komsos dengan Warga Desa Binaan

Sabtu, 18 April 2026 - 12:11 WIB

Babinsa Jalin komsos dengan pedagang ikan

Sabtu, 18 April 2026 - 12:05 WIB

Babinsa Posramil Kuala Pesisir Laksanakan Pendampingan Program MBG di Desa Langkak

Sabtu, 18 April 2026 - 10:11 WIB

TNI dan Warga Cor Tiang Pondasi Jembatan Gantung Garuda di Desa Binaan

Sabtu, 18 April 2026 - 10:08 WIB

Babinsa Jalin Komsos Ke Desa Bantu Warga Kupas Coklat

Berita Terbaru

ACEH TENGGARA

Babinsa Tinjau penjual Bahan pokok dan sayuran di pekan Tradisional

Sabtu, 18 Apr 2026 - 12:21 WIB

ACEH TENGGARA

Babinsa Jalin komsos dengan pedagang ikan

Sabtu, 18 Apr 2026 - 12:11 WIB