Jakarta, AgaraNews.com //Madani International Film Festival ke-9 tahun 2026 resmi akan kembali digelar dengan mengangkat tema besar “Rimpang” (Rhizoma)
Tema ini dipilih sebagai simbol perlawanan, daya hidup, dan kolaborasi lintas komunitas di tengah situasi sosial politik yang penuh ketegangan.
Dalam konferensi pers yang digelar berkat dukungan penuh Pemprov Jakarta melalui Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, pihak penyelenggara menjelaskan filosofi tema Rimpang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tahun Ini Tanpa Kompetisi, Ganti Jadi Madani Award
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang menggelar kompetisi, tahun ini Madani tidak membuka kompetisi untuk filmmaker dunia. Sebagai gantinya, akan ada Madani Award yang diberikan kepada tokoh-tokoh penting dalam perfilman, termasuk kategori Film Anak dan Film Madani.
Antusiasme festival tahun ini sangat tinggi. Tercatat ada 1.546 film yang masuk dari 156 negara, dan setelah melalui proses kurasi yang ketat, terpilih 37 film yang akan diputar selama festival.
Film pembuka tahun 2026 adalah film tentang pergolakan politik dan sosial di Mesir. Madani juga memberi perhatian khusus pada perkembangan film di Asia Tenggara yang dinilai progresnya sangat bagus.
Kolaborasi dengan Efek Rumah Kaca
Keunikan tahun ini, Madani menggandeng band Efek Rumah Kaca (ERK) sebagai co-programmer untuk program Rimpang. Vokalis ERK, *Cholil Mahmud, didaulat menjadi kurator.
“Kehormatan bagi kami bisa terlibat di Madani. Kami melihat tema Rimpang sama dengan judul album keempat kami. Kami mencoba melihat gejala upaya warga dalam bertahan hidup, mencari siasat,” ujar Cholil.
Program kolaborasi ERK x Madani akan berlangsung 3 hari, tanggal 8-10 Oktober :
Tanggal 8 Oktober: Pemutaran film _Mamaber_ (tentang kolektif musik Papua yang berusaha menghidupkan bahasa dan lagu-lagu daerah Papua sejak era 80-an), pembacaan novel/cerpen, serta penampilan musik.
Tanggal 9 Oktober: Pemutaran film tentang _The Panturas_ di Sumedang yang mengangkat budaya Sunda, dan film tentang obsesi musisi noise yang mengejar Emmy Award. Dilanjutkan penampilan 6 musisi eksperimental dan grup hip-hop Sawung Penderitaan.
Tanggal 10 Oktober: Mengundang musisi religi Bin Idris, kelompok vokal perempuan penyintas politik Dialita, dan pemutaran film _Sekeping Kenangan_ tentang pengarsipan lagu-lagu tahanan politik di Bali.
Rimpang Sebagai Ruang Aman
Direktur Program Madani, Inayah, menjelaskan makna Rimpang. Jika tahun lalu tema adalah “Miqat” (cahaya kecil), tahun ini cahaya itu diharapkan menjalar kemana-mana seperti rimpang jahe, kunyit, lengkuas.
“Negara kita hobinya menciptakan kedaruratan, ketegangan terus dimunculkan. Madani ingin menjadi ruang aman. Kehebatan rimpang itu dia tidak monokultur seperti sawit. Dia beragam, saling berkolaborasi, tidak mengambil tempat yang lain. Kalau dipotong, dia tidak langsung mati, dia akan bertunas lagi. Minimal bikin anget seperti jamu,” jelas Inayah.
Ia menegaskan Madani bukan sekadar festival film, tapi ruang perjumpaan antara film, kebudayaan, gagasan, komunitas, dan pabrik ide.
“Ketika jurnalisme dibongkar, maka sastra yang harus bicara. Ketika banyak yang dibongkar, maka seni dan budaya yang harus jadi suara,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan Madani lainnya menyoroti pentingnya ekosistem seni di Jakarta. Meski sudah 9 tahun konsisten, dukungan untuk ruang-ruang aman seperti Madani masih sangat minim, bahkan hanya 0,1% dari kebutuhan minimum untuk platform seni internasional.
Festival ini diharapkan menjadi jamu yang menguatkan warga, tempat bertemunya berbagai komunitas, dari Madura, Papua, hingga internasional. (Lia Hambali)
Reporter : Supriyadi






















