Tanah Toraja, AgaraNews.com // Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan program pemerintah dinilai sebagai program mulia untuk masyarakat. Namun, bagi Leni, warga asal Toraja, Tana Toraja, program tersebut justru membawa persoalan berat setelah modal yang digunakan untuk membangun dapur MBG berasal dari pinjaman dan barang berharga milik keluarga maupun teman.
Leni mengaku telah menggadaikan berbagai aset untuk memenuhi kebutuhan pembangunan dapur MBG. Mulai dari pinjaman bank, Pegadaian, kendaraan milik keluarga dan teman, hingga emas milik orang tua, saudara, serta teman.
“Semua saya gadaikan untuk membangun dapur ini. Mobil keluarga, emas orang tua, saudara dan teman saya gadaikan. Satu per satu sudah ditarik dan ada yang sudah dilelang,” ungkap Leni.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Leni, kondisi tersebut semakin berat karena dapur yang dibangun belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Sementara itu, sejumlah kewajiban kepada toko bangunan dan tenaga kerja yang terlibat dalam pembangunan belum seluruhnya dapat dibayarkan.
Ia juga menyebut kondisi kesehatan suaminya ikut terdampak. Suaminya disebut mengalami komplikasi penyakit dan sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Beban pikiran akibat tagihan utang, menurut Leni, turut memperburuk kondisi tersebut.
“Suami saya sakit komplikasi. Setiap ditagih dan memikirkan utang, dia pusing. Kami sudah tidak mampu lagi bergerak karena modal sudah habis,” katanya.
Leni mengatakan, sejak sekitar lima bulan terakhir dirinya terus menghadapi penagihan. Ia bahkan memilih berada di Jakarta karena tidak sanggup menghadapi tekanan dari para pihak yang menagih pembayaran.
Menurutnya, ketika pembangunan dapur dilakukan, terdapat pemahaman berdasarkan petunjuk teknis awal bahwa pengelola akan memperoleh keuntungan dan insentif. Hal tersebut membuatnya berani melakukan percepatan pembangunan.
“Waktu itu kami berpikir akan mendapatkan keuntungan dan insentif seperti yang dijanjikan dalam juknis awal. Karena itu kami berani membangun dengan cepat, sekitar 35 hari,” ujarnya.
Namun, kondisi yang terjadi kemudian membuat Leni tidak lagi mempersoalkan keuntungan. Ia hanya berharap modal yang telah dikeluarkan dapat dikembalikan sehingga utang kepada bank, Pegadaian, toko bangunan, pekerja, keluarga dan teman dapat diselesaikan.
“Saya tidak mau untung lagi. Saya hanya minta modal saya dikembalikan supaya saya bisa membayar semua utang. Saya ingin suami saya sehat kembali dan tidak dikejar-kejar utang,” kata Leni.
Ia juga menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak hanya berdampak pada dirinya. Sejumlah pekerja dan toko bangunan yang belum menerima pembayaran juga disebut ikut menjadi korban karena pembangunan dapur tersebut.
Leni berharap pemerintah dapat memberikan solusi dan memastikan pihak yang telah mengeluarkan modal untuk mendukung pelaksanaan program MBG tidak dibiarkan menanggung beban sendiri.
“Ini program pemerintah, program yang mulia. Tetapi jangan sampai rakyat kecil yang ikut mendukung justru menjadi korban,” pungkasnya.(Lia Hambali)
Reporter : Supriyadi




















