Kutacane, Agaranews.com. // Di bawah langit kelabu yang belum sepenuhnya bersahabat, rombongan Kapolsek Semadam bersama unsur Muspika turun menembus jalan becek dan genangan air menuju Desa Lawe Kinga Lapter dan Desa Lawe Kinga Gabungan. Dua desa itu menjadi salah satu titik paling terdampak banjir setelah Sungai Kali Alas dan Sungai Lawe Kinga meluap akibat hujan deras berhari-hari.
Di sana—di antara rumah-rumah yang masih basah oleh lumpur dan warga yang berusaha menyelamatkan sisa-sisa barang mereka—kehadiran para pimpinan kecamatan terasa seperti napas baru yang menenangkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Banjir bukan hanya merendam tanah. Ia merendam perasaan. Warga masih tampak cemas, beberapa ibu terlihat memeluk anaknya erat-erat, sementara para lelaki sibuk membersihkan rumah yang terendam. Dalam suasana itulah 200 kotak bantuan berupa air mineral dan Supermi tiba.
Kapolsek Semadam Iptu Akhdiar Muslim, turun langsung tanpa ragu. Tidak ada jarak antara aparat dan warga—semua sama-sama berdiri di tanah lembek berlumpur, merasakan getir yang sama.
“Kami datang bukan sekadar membawa bantuan. Kami datang membawa kepedulian,” ucap Kapolsek dengan mata yang menatap warga satu per satu.
Bantuan itu kemudian diserahkan kepada para penghulu kute untuk dibagikan kepada keluarga yang paling membutuhkan.
Kedatangan unsur Muspika bukan hanya membawa logistik, tetapi juga menguatkan mental warga. Satu per satu masyarakat menyampaikan keluhan, kekhawatiran, hingga harapan mereka. Dan semua didengarkan dengan penuh empati.
Salah seorang warga bahkan meneteskan air mata saat menerima bantuan, mengaku tidak menyangka perhatian datang begitu cepat di tengah keterbatasan akses akibat banjir.
“Kami pastikan masyarakat tidak sendirian menghadapi musibah ini,” tegas salah satu unsur pemerintah kecamatan.
Kapolsek Akhdiar Muslim menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau kondisi di lapangan, mengingat cuaca belum stabil. Potensi banjir susulan masih bisa terjadi.
“Kami terus berjaga. Semoga sedikit bantuan ini dapat mengurangi beban saudara-saudara kita. Yang paling penting, semua tetap waspada dan saling menjaga,” ujarnya.
Meski hujan telah meninggalkan luka, namun solidaritas yang ditunjukkan Muspika hari itu menyalakan kembali harapan warga. Mereka kembali tersenyum—walau kecil—karena mengetahui bahwa pemerintah hadir, melihat, dan merasakan penderitaan mereka.
Di tengah lumpur yang belum kering, ada pesan kuat yang tersisa: ketika bencana datang, kemanusiaan selalu menemukan jalannya. )Ady Gegoyong)
































