Aceh, AgaraNews.com // Di atas meja kayu yang mulai lapuk dimakan waktu, terdapat segelas kecil berisi cairan hitam pekat. Tidak ada kemewahan, tidak ada hiasan berlebihan hanya kesederhanaan yang jujur. Namun justru dari situlah, kita diajak merenung tentang sesuatu yang sering luput dari perhatian: arti cukup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Minuman hitam itu, mungkin kopi, mungkin juga sekadar air rebusan sederhana, menjadi simbol dari kehidupan banyak orang terutama mereka yang hidup jauh dari gemerlap kota. Di tengah kesunyian, di antara retakan kayu dan noda yang tak terhapus, tersimpan cerita tentang perjuangan, kerja keras, dan keteguhanKita hidup di zaman yang serba cepat dan penuh tuntutan. Segala sesuatu diukur dari kemewahan, pencapaian, dan pengakuan. Namun ini seakan menampar kesadaran kita bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari yang besar. Terkadang, ia hadir dalam bentuk yang paling sederhana: secangkir minuman, waktu yang tenang, dan ruang untuk berpikir.
Meja kayu itu mungkin telah menjadi saksi banyak hal perbincangan hangat, keluh kesah, hingga rencana hidup yang sederhana. Dan gelas kecil itu, diam tanpa suara, menemani setiap cerita yang terlahir di atasnya.
Opini ini bukan tentang kopi. Ini tentang cara kita memandang hidup. Apakah kita masih mampu menghargai hal-hal kecil? Ataukah kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum tentu memberi makna?
Pada akhirnya, mungkin kita semua butuh berhenti sejenak duduk di depan “meja kayu” kita masing-masing, menatap “secangkir hitam” kehidupan, dan bertanya: sudahkah kita benar-benar hidup, atau hanya sekadar berlari?
Begitulah proses kehidupan pasti terasa pahit atau pun terasa manis di dalam sebuah kehidupan ini selalu saja ada saja tantangan untuk menuju jalan yang sukses.(Lia Hambali)
Oleh Syahrul Amin PMII Aceh


































