Dulu Diam 1000 Bahasa Setuju, Sekarang Bicara 1 Kata : Menolak,..!!! Logikanya Dimana,…???

LIA HAMBALI

- Redaksi

Selasa, 15 September 2026 - 07:44 WIB

5096 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh : Detektif Logicalfallacy

Surabaya, AgaraNews. Com – Politik itu bukan sulap. Tapi di daerah kita, politik sering disulap jadi sandiwara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sandiwara yang pemainnya itu-itu saja. Naskahnya diulang-ulang. Dan penontonnya dipaksa tepuk tangan.

Pada saat kami menolak usulan Dana Abadi Daerah, kalian bungkam. Tidak ada rapat darurat. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada satu kalimat pun pembelaan. Seribu bahasa kalian simpan rapat-rapat.

Saya catat itu sebagai ACC. ACC dari barisan “tukang cebok”. Tugasnya bukan berpikir, tapi mengangguk. Bukan mengoreksi, tapi mengamini. Karena yang penting aman, yang penting dapat bagian.

Kami rasa kondisi sedang berada di Persimpangan Jalan. Jika dibiarkan, ke depan akan terjadi eskalasi. Dan ketika kami yang turun tangan, undang ahli, susun kajian hingga memberi solusi konkret, ketika eskalasi itu muncul justru kami mereduksi dengan solusi.

Tapi panggung itu berubah. Tiba-tiba mikrofon dinyalakan. Tiba-tiba kalian kompak teriak ” TOLAK,..”!!!

Suara paling kencang justru keluar saat ada jalan keluar. Karena solusi berarti transparansi. Dan transparansi berarti mati kutu bagi mereka yang hidup dari gelap.

Mungkin memang begitu. Tidak diajak duduk, jadi tolak. Tidak dapat jatah proyek, jadi ribut. Tidak dapat amplop, jadi moralis dadakan.

Ini bukan lagi soal setuju atau tidak setuju terhadap substansi. Ini soal logika yang sudah runtuh sejak lama.

Dulu diam karena nyaman dengan status quo. Karena status quo menguntungkan. Sekarang berisik karena takut kehilangan zona nyaman. Karena zona nyaman itu mulai dibongkar.

Yang lebih memprihatinkan adalah para pejabat. Mereka yang dulu berjanji di atas mimbar: “Akan profesional. Akan melayani rakyat.” Kini janji itu mereka makan sendiri. Berkhianat.

Mereka menggabungkan para “cecunguk” menjadi satu barisan pecundang. Saling melindungi. Saling menutupi aib. Saling membangun tembok untuk menjaga sistem pola lama tetap berdiri.

Sistem pola lama itu sederhana: *Bagi-bagi, Tutup mulut, Ulangi.* Tidak ada evaluasi. Tidak ada kritik. Yang ada hanya loyalitas buta. Dan hari ini, tembok itu runtuh menimpa pembangunnya sendiri.

Dan kini… kalian merasakan sendiri. _Terpasung oleh sistem yang kalian bangun bersama para pecundang itu._ Jeratan yang dulu kalian pasang untuk membungkam orang, sekarang melilit leher kalian sendiri.

Rakyat hanya bisa melihat sambil menggeleng. Melihat bagaimana mereka yang dulu ACC tanpa nalar, kini menolak solusi karena nalar itu akhirnya datang dan mengganggu pesta.

Jika memang benar cinta daerah, buktikan dengan kerja. Bukan dengan gimmick penolakan. Bukan dengan narasi kebencian. Tapi dengan duduk satu meja. Bedah datanya. Uji argumennya. Benahi yang salah.

Demokrasi bukan soal siapa paling keras teriak. Demokrasi adalah soal siapa paling berani bertanggung jawab.

Karena sejarah tidak pelupa. Sejarah akan mencatat dengan tinta paling tebal: Siapa yang bungkam saat rakyat butuh suara, dan siapa yang berisik saat rakyat butuh solusi.

Dan kami akan terus mencatat. Sampai logika kembali menjadi panglima. Sampai kata “TOLAK” tidak lagi jadi tameng untuk menutup kebusukan.(Redho)

Editor : Lia Hambali

Berita Terkait

Kejari Karo Ikuti FGD Virtual Perkuat Pengawasan Penuntut Umum Terhadap Proses Penyidikan dan Penuntutan 
Kejari Karo Gelar Program Jaksa Sahabat Pendidik di SDN 040448 Kabanjahe, Kajari Edmond : Jaksa Hadir Sebagai Sahabat Bukan Untuk Menakuti 
Kawal Pembangunan Pendidikan, Kajari Karo Edmond Purba Monitoring RKB SDN 040448 Kabanjahe
Martha Tilaar Tinggalkan Warisan Budaya Jamu Terkenal Sampai Mancanegara
Sosok AKBP Ade Gita Rachmadi Lulusan Akpol 2008 Yang Kini Pimpin Polres Abdya
KPK Layangkan Panggilan Ulang Kedua untuk Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Terkait Kasus Suap HGB
Wabup Bone Hadiri Pelantikan PWI Sulsel, Terima Penghargaan untuk Bupati Bone 
Hadir di Tengah Kesulitan Warga, Kodim Boyolali Salurkan Bantuan Air Bersih di Kemusu

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 18:27 WIB

Kejari Karo Ikuti FGD Virtual Perkuat Pengawasan Penuntut Umum Terhadap Proses Penyidikan dan Penuntutan 

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 18:22 WIB

Kejari Karo Gelar Program Jaksa Sahabat Pendidik di SDN 040448 Kabanjahe, Kajari Edmond : Jaksa Hadir Sebagai Sahabat Bukan Untuk Menakuti 

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 18:15 WIB

Kawal Pembangunan Pendidikan, Kajari Karo Edmond Purba Monitoring RKB SDN 040448 Kabanjahe

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:46 WIB

Martha Tilaar Tinggalkan Warisan Budaya Jamu Terkenal Sampai Mancanegara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:43 WIB

Sosok AKBP Ade Gita Rachmadi Lulusan Akpol 2008 Yang Kini Pimpin Polres Abdya

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:34 WIB

Wabup Bone Hadiri Pelantikan PWI Sulsel, Terima Penghargaan untuk Bupati Bone 

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:29 WIB

Hadir di Tengah Kesulitan Warga, Kodim Boyolali Salurkan Bantuan Air Bersih di Kemusu

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:27 WIB

Kabar Duka : Pendiri Sariayu Martha Tilaar Berpulang di Usia 89 Tahun 

Berita Terbaru