Bandar Lampung. Agaranews.com // Seminar internasional menghadirkan tokoh dari Rusia, Mesir, Libya, dan Indonesia untuk membahas peran citizen journalism dalam memperjuangkan perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan.
Ketika arus informasi bergerak lebih cepat daripada sebelumnya dan setiap orang dapat menjadi penyampai berita melalui perangkat digital, pertanyaan tentang siapa yang menyuarakan kebenaran, untuk kepentingan siapa informasi disampaikan, dan bagaimana jurnalistik dapat berkontribusi terhadap perdamaian menjadi semakin penting. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan dibawa ke Bandar Lampung, Indonesia, pada 11 November 2026, melalui Seminar Internasional dalam rangka memperingati 19 tahun Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui tema “19 Years of PPWI: Affirming the Role of Citizen Journalists for Peace, Justice, and Humanity,” kegiatan ini diproyeksikan menjadi forum pertemuan gagasan antara pewarta warga, akademisi, tokoh politik, jurnalis, masyarakat sipil, dunia usaha, serta tokoh internasional. Bagi PPWI, peringatan 19 tahun bukan sekadar penanda usia organisasi. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk menegaskan kembali posisi citizen journalist sebagai bagian penting dari ekosistem informasi publik sekaligus sebagai kekuatan sosial yang dapat mengambil peran dalam membangun perdamaian, memperjuangkan keadilan, dan mengangkat nilai-nilai kemanusiaan.
Seminar ini menghadirkan pembicara dari berbagai negara dan latar belakang. Dari Rusia, akan hadir Madam Elena Semerikova, Chair of the International World Peace Movement “Women Dialogue”. Kehadiran Elena Semerikova diharapkan membawa perspektif mengenai gerakan perdamaian dan pentingnya dialog dalam membangun hubungan antar manusia dan antarbangsa.
Dari Mesir, forum akan menghadirkan Dr. Ahmed Issa Bedir, Advisor to the Youth and Creative Economy Council of the Arab League, serta Prof. Mohamed Sayed Mohamed, Professor at Al-Azhar University, Cairo. Keduanya akan memperkaya diskusi dengan perspektif mengenai generasi muda, kreativitas, pendidikan, dan komunikasi dalam konteks masyarakat internasional.
Sementara itu, dari Libya akan hadir Dr. Faez Mohmad Monsour Alfarjani, seorang senior journalist. Pengalaman jurnalistik dari kawasan Afrika Utara diharapkan memberikan perspektif mengenai dinamika media, masyarakat, dan tantangan komunikasi di tingkat global.
Dari Indonesia, seminar akan menghadirkan Prof. Dr. Sufmi Dasco Ahmad, Deputy Speaker of the Indonesian House of Representatives, serta Prof. Dr. Syarief Mahkya, Professor at the University of Lampung.
Komposisi pembicara tersebut memperlihatkan karakter seminar yang berupaya mempertemukan perspektif jurnalistik, akademik, politik, kepemudaan, perdamaian, dan hubungan sosial dalam satu forum internasional.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah hubungan antara masyarakat dan informasi. Dahulu, produksi berita lebih banyak berada di tangan institusi media. Kini, masyarakat memiliki kemampuan untuk merekam peristiwa, menulis laporan, mengambil gambar, menyebarkan informasi, dan membangun percakapan publik secara langsung.
Perubahan ini melahirkan peluang besar bagi citizen journalism. Peristiwa yang terjadi di lingkungan masyarakat dapat diketahui secara lebih cepat. Suara kelompok yang sebelumnya kurang mendapatkan ruang dapat memperoleh perhatian publik. Persoalan lokal dapat berkembang menjadi isu nasional bahkan internasional.
Namun, kekuatan tersebut juga membawa tanggung jawab. Kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi. Kebebasan berekspresi tidak boleh berubah menjadi penyebaran kebencian. Kritik tidak boleh kehilangan dasar fakta. Dan kebebasan jurnalistik harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap martabat manusia.
Karena itu, tema seminar PPWI menjadi sangat relevan dengan perkembangan zaman. Pewarta warga tidak cukup hanya menjadi penyampai informasi. Merek.(JS)




















