Abdya, AgaraNews.com // Perjalanan AKBP Ade Gita Rachmadi B menuju kursi Kapolres Aceh Barat Daya (Abdya) bermula dari Rantau Prapat, Sumatera Utara.
Pada April 2005, ia menamatkan pendidikan di SMA Negeri 5 Rantau Prapat. Tiga bulan kemudian, Juli 2005, ia memasuki Akademi Kepolisian (Akpol), membuka jalan menuju karier panjang di institusi Polri.
Dari bangku pendidikan kepolisian, perjalanan Ade Gita membawanya ke sejumlah lingkungan penugasan. Ia pernah menghabiskan hampir lima tahun bekerja di Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), sebelum melanjutkan pengabdiannya di lingkungan kepolisian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kini, perwira dengan pangkat dua melati di pundak itu memimpin Polres Abdya. Ia dipercaya menduduki jabatan tersebut pada pertengahan 2026, menggantikan AKBP Agus Sulistianto.
Penunjukan itu membawanya kembali ke wilayah Aceh, provinsi yang telah menjadi bagian dari perjalanan kariernya sejak 2019. Bagi Ade Gita, Abdya bukan sekadar tempat penugasan baru. Kabupaten di pantai barat selatan Aceh itu menjadi wilayah tempat ia harus membuktikan kepemimpinan melalui kerja nyata, terutama dalam menjaga keamanan, menegakkan hukum, dan melayani masyarakat.
Hampir lima tahun di PPATK menjadi salah satu bagian penting dalam karier Ade Gita. Lembaga ini memiliki peran dalam menganalisis transaksi keuangan untuk mendukung upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang serta pendanaan terorisme.
Setelah penugasan tersebut, Ade Gita bertugas di Aceh sejak 2019. Ia kemudian kembali ke Mabes Polri untuk menjalani penugasan berikutnya sebelum kembali ke Aceh pada 2024.
Sebelum dipercaya memimpin Polres Abdya, Ade Gita menjabat Kepala Subdirektorat Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Kasubdit Fasharkan) pada Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Aceh.
Di balik perjalanan kariernya, Ade Gita memiliki latar belakang keluarga yang menghubungkannya dengan Aceh. Ia berasal dari Padangsidimpuan, Sumatera Utara, dan besar di Rantau Prapat. Garis keturunan Aceh mengalir dari pihak ibunya.
Kini ia bertugas di Abdya, daerah yang dikenal dengan julukan Bumoe Breuh Sigupai. Penugasan itu mempertemukannya dengan masyarakat dan karakter wilayah yang menjadi bagian dari kehidupan sosial Aceh. (Lia Hambali/Supriyadi)
Sumber : AJNN – Irfan Habibi, 14 Oktober 2026




















