Banda Aceh, agaranews.com — Semangat untuk mengangkat kembali jejak perjuangan tokoh-tokoh Aceh terus digelorakan. Pemerintah Aceh melalui Dinas Sosial kini bergerak lebih serius mendorong lahirnya pahlawan nasional baru dari Tanah Rencong—sebuah langkah strategis yang tak hanya menyangkut penghargaan, tetapi juga menyangkut identitas dan marwah sejarah daerah.
Kepala Dinas Sosial Aceh, Budi Afrizal, menegaskan bahwa upaya ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam memastikan jasa para pejuang Aceh tidak tenggelam dalam arus sejarah nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Masih banyak tokoh Aceh yang memiliki rekam jejak perjuangan luar biasa, namun belum mendapatkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional. Ini yang sedang kami dorong secara serius,” ujar Budi Afrizal, Selasa (31/3/2026).
Menurutnya, proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional bukanlah hal yang sederhana. Diperlukan kajian mendalam, mulai dari penelusuran arsip sejarah, dokumentasi akademik, hingga pembuktian kontribusi nyata terhadap bangsa dan negara.
Untuk itu, Dinas Sosial Aceh tengah menyiapkan tahapan administratif dan akademik secara komprehensif. Sejumlah nama tokoh potensial pun mulai dikaji secara serius dengan melibatkan berbagai pihak.
Tak hanya bekerja secara internal, pemerintah juga akan menggandeng para sejarawan, akademisi, hingga tokoh masyarakat dalam forum ilmiah dan seminar khusus.
“Forum ini penting untuk memperkuat dasar ilmiah dari setiap usulan. Kita ingin setiap nama yang diajukan benar-benar memiliki legitimasi sejarah yang kuat,” jelasnya.
Lebih dari sekadar pengusulan gelar, langkah ini juga diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya mengenal sejarah perjuangan daerah.
Aceh, yang dikenal sebagai daerah dengan sejarah panjang perlawanan terhadap penjajah, dinilai memiliki banyak figur inspiratif yang layak dikenang di tingkat nasional.
Namun, menurut Budi, pengakuan formal dari negara menjadi penting agar kisah-kisah perjuangan tersebut tidak hanya hidup di tingkat lokal, tetapi juga menjadi bagian dari narasi besar sejarah Indonesia.
Selain mendorong penambahan Pahlawan Nasional, Pemerintah Aceh juga memberi perhatian khusus terhadap pelestarian situs sejarah, terutama makam para tokoh perjuangan.
Upaya menjadikan makam pahlawan sebagai cagar budaya dinilai sebagai langkah konkret dalam menjaga warisan sejarah sekaligus sarana edukasi publik.
“Ini bukan sekadar menjaga situs, tetapi juga menjaga nilai. Generasi muda harus tahu siapa yang telah berjuang sebelum mereka,” tegasnya.
Jejak Pahlawan Aceh di Tingkat Nasional
Sejauh ini, Aceh telah melahirkan sejumlah tokoh besar yang diakui sebagai Pahlawan Nasional. Mereka adalah figur-figur yang namanya tak hanya harum di daerah, tetapi juga tercatat dalam sejarah bangsa:
Teuku Umar, sosok pejuang yang dikenal dengan strategi perang gerilya melawan kolonial Belanda.
Cut Nyak Dien, perempuan tangguh simbol perlawanan rakyat Aceh.
Cut Nyak Meutia, pejuang perempuan yang gigih melanjutkan perjuangan suaminya.
Teungku Chik di Tiro, ulama sekaligus pemimpin perlawanan rakyat.
Sultan Iskandar Muda, pemimpin besar Kesultanan Aceh yang membawa kejayaan di masanya.
Teuku Nyak Arief, tokoh penting dalam masa awal kemerdekaan.
Laksamana Malahayati, laksamana perempuan pertama di dunia.
Teuku Muhammad Hasan, tokoh pemerintahan yang berperan dalam awal berdirinya Republik Indonesia.
Meski demikian, jumlah tersebut dinilai belum merepresentasikan seluruh tokoh besar Aceh yang memiliki kontribusi signifikan terhadap bangsa.
Pemerintah Aceh optimistis, melalui kerja berkelanjutan dan dukungan berbagai pihak, akan semakin banyak tokoh daerah yang diakui secara nasional.
Lebih dari sekadar gelar, pengakuan ini diharapkan mampu memperkuat identitas Aceh sebagai daerah yang kaya akan sejarah perjuangan serta memberi inspirasi bagi generasi mendatang.
“Ini adalah tentang menjaga marwah sejarah. Kita ingin memastikan bahwa jasa para pendahulu tidak dilupakan, tetapi justru menjadi inspirasi untuk masa depan,” tutup Budi Afrizal.

































