Opini, AgaraNews.com // Kisah ini bermula dari langkah awal seorang prajurit muda TNI yang mengabdikan dirinya di Yonif 123/Rajawali. Di satuan inilah fondasi kedisiplinan, keberanian, dan loyalitasnya ditempa, sebelum takdir membawanya ke salah satu operasi militer paling bersejarah: Operasi Seroja di Timor Timur pada tahun 1976.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam penugasan pertamanya, ia dan rekan-rekannya tidak datang sebagai pasukan berseragam. Mereka hadir dalam balutan pakaian sipil “preman” menjalankan misi yang menuntut kecerdikan, keberanian, dan kemampuan beradaptasi tinggi. Mereka disebar ke berbagai wilayah, menyusup, mengamati, dan perlahan membangun pengaruh di tengah situasi yang penuh ketegangan.
Namun, kekuatan terbesar mereka bukan hanya pada strategi militer, melainkan pendekatan kemanusiaan. Dengan merangkul masyarakat lokal, termasuk pihak-pihak yang sebelumnya berada di lingkaran Fretilin, mereka membangun kepercayaan. Bahkan, beberapa korban kekerasan justru kemudian bergabung, membantu patroli karena mereka lebih memahami medan dan situasi setempat.
Salah satu momen paling membekas adalah ketika mereka berhasil menyelamatkan seorang kerabat dari Xanana Gusmão yang saat itu menjadi korban konflik. Peristiwa ini bukan hanya soal keberhasilan operasi, tetapi juga tentang kemanusiaan yang melampaui garis konflik.
Keberhasilan demi keberhasilan yang diraih membuat kompi tersebut dipercaya dan dihormati. Mereka bahkan diberi kesempatan untuk turun ke Dili menjelang akhir masa tugas sebuah bentuk pengakuan atas capaian mereka.
Sepulang dari penugasan, sebagian anggota kompi mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi masuk Kopassus, bahkan ada yang kemudian menjadi bagian dari lingkaran dekat Prabowo Subianto. Sementara yang lain melanjutkan pengabdian di Yonif Linud 100.
Namun kisah belum berakhir. Dalam penugasan kedua di Timor Timur bersama Yonif Linud 100, takdir mempertemukan mereka kembali dengan sosok yang pernah mereka selamatkan. Kini, orang tersebut telah menjalani kehidupan baru dan bekerja di lingkungan pemerintahan. Pertemuan itu berubah menjadi momen hangat penuh nostalgia sebuah pengingat bahwa di tengah kerasnya konflik, pernah ada jembatan kemanusiaan yang dibangun dengan tulus.
Cerita ini bukan sekadar tentang operasi militer. Ini adalah kisah tentang keberanian yang berpadu dengan empati, tentang prajurit yang tidak hanya bertempur, tetapi juga merangkul, melindungi, dan meninggalkan jejak kemanusiaan yang tak terlupakan. (Lia Hambali)


































