Cirebon, AgaraNews.com //Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cirebon, Jawa Barat, tersimpan sebuah bangunan bersejarah bernama Gedung Pertenunan. Bangunan peninggalan kolonial Belanda ini hingga kini masih dipertahankan dan dirawat sebagai bagian dari warisan sejarah.
Namun, gedung tua itu kini tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu. Di dalamnya, warga binaan justru sedang merajut masa depan.
Di tempat yang dahulu menjadi pusat aktivitas pertenunan, kini berlangsung berbagai kegiatan pembinaan kemandirian, mulai dari menjahit, bordir, sablon hingga produksi pakaian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sinilah sebuah filosofi menemukan maknanya : menenun harapan, menenun cita-cita, sekaligus menjahit masa depan.
Salah seorang warga binaan, Dedi, terlihat fokus mengikuti kegiatan pembinaan menjahit. Tangannya tidak sekadar menggerakkan jarum dan benang untuk menghasilkan pakaian. Keterampilan itu diharapkan menjadi bekal hidup ketika kelak ia kembali ke tengah masyarakat.
“Jadi menjahit baju, menjahit masa depan,” begitu gambaran yang lahir dari aktivitas pembinaan tersebut.
Kalapas Kelas I Cirebon, Suranto, dalam program _Bincang Tipis-Tipis_ yang dipandu host Erman Tale Daulay, menegaskan pembinaan di Lapas tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan hukuman.
Menurutnya, pembinaan dilakukan melalui dua jalur utama, yakni pembinaan kemandirian dan pembinaan kepribadian.
“Pembinaan kemandirian ini adalah bekal modal duniawi. Agar setelah melaksanakan pembinaan di sini, mereka punya bekal, termasuk bekal yang bersertifikasi, sehingga setelah keluar dari sini mampu mengamalkan atau bekerja sesuai dengan kemampuan yang telah diberikan,” ujar Suranto.
Semangat tersebut sejalan dengan paradigma pemasyarakatan yang kini menempatkan warga binaan sebagai manusia yang harus dipersiapkan untuk kembali hidup dan berperan di tengah masyarakat.
Suranto menyadari, keberhasilan pembinaan tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan internal Lapas. Keterlibatan pihak ketiga, dunia usaha, pemerintah daerah dan masyarakat menjadi kunci, terutama dalam menyediakan pelatihan, instruktur, dan pesanan produk.
“Kalau ada instruktur yang jago, bisa memberikan pelatihan dan mentransfer ilmu menjahit di sini. Atau memberikan order pekerjaan kepada kami. Insya Allah, apapun yang dipesan terkait dengan penjahitan, sablon maupun pembuatan kaos, kami siap melaksanakan,” katanya.
Kesinambungan order menjadi kunci agar keterampilan warga binaan tidak berhenti sebatas pelatihan. Dengan adanya permintaan, warga binaan dapat terus berproduksi sekaligus mengasah kemampuan.
Hal ini menjadi semakin penting mengingat kondisi Lapas Kelas I Cirebon yang menghadapi keterbatasan kapasitas, namun pembinaan harus tetap berjalan.
Di tengah aktivitas pembinaan tersebut, keberadaan Gedung Pertenunan memberikan dimensi lain. Bangunan kolonial itu masih menyimpan sejumlah peralatan lama yang dipertahankan dan dirawat melalui koordinasi dengan Pemerintah Kota Cirebon.
Gedung bersejarah itu kini seperti mempertemukan dua zaman. Di satu sisi, ia menyimpan jejak masa lalu. Di sisi lain, ruang yang sama kini menjadi tempat warga binaan belajar keterampilan untuk menghadapi masa depan.
Dari gedung tua inilah harapan baru ditenun dan masa depan dijahit kembali. (Lia Hambali)
Reporter : Supriyadi
Sumber : Timenews.co.id*l


















