KUTACANE,agaranews.co
Aceh Tenggara — Di bawah komando Bupati Aceh Tenggara, H. M. Salim Fakhri, SE., MM., upaya kebangkitan Universitas Gunung Leuser (UGL) kembali menemukan momentumnya. Dalam sebuah arahan yang penuh visi dan semangat pembaruan, Bupati menegaskan bahwa revitalisasi UGL bukan sekadar wacana politik atau janji seremonial, melainkan agenda strategis pembangunan daerah berbasis pendidikan tinggi.
Mengusung semangat “UGL Bangkit, Agara Hebat!”, pemerintah kabupaten merumuskan tiga pilar utama yang menjadi kerangka kebijakan dan arah gerak UGL ke depan:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
1. Penguatan Kelembagaan
Langkah pertama yang dinilai fundamental adalah membangun tata kelola kampus yang bersih, profesional, dan adaptif terhadap dinamika zaman. UGL diarahkan untuk menjadi institusi yang kredibel, memiliki sistem manajemen yang akuntabel, serta mampu melakukan transformasi secara berkelanjutan.
“UGL harus bisa menjadi lembaga yang bergerak cepat dan tepat, menjawab tantangan global tanpa meninggalkan kearifan lokal,” ujar Bupati dalam pernyataannya.
Langkah ini mencakup penataan manajemen internal, transparansi keuangan, digitalisasi layanan akademik, serta penciptaan kultur kerja yang inovatif di lingkungan kampus.
2. Peningkatan Kualitas SDM dan Akademik
Kualitas perguruan tinggi sangat ditentukan oleh mutu sumber daya manusia dan kurikulumnya. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara menempatkan peningkatan kapasitas dosen, relevansi kurikulum, dan karakter mahasiswa sebagai prioritas utama.
“UGL harus mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan, kepekaan sosial, dan semangat membangun kampung halamannya,” tambah Bupati Salim Fakhri.
Inisiatif ini mencakup pelatihan dosen, peningkatan jenjang pendidikan tenaga pengajar, serta penyusunan kurikulum berbasis kebutuhan lokal dan global.
3. Sinergi dengan Masyarakat dan Dunia Usaha
Kampus bukan menara gading yang terpisah dari realitas masyarakat. UGL harus tampil sebagai institusi yang solutif, hadir di tengah masyarakat, dan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi lokal. Oleh sebab itu, sinergi antara UGL dengan pelaku UMKM, industri lokal, lembaga pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil menjadi bagian penting dari proses transformasi ini.
“UGL tidak boleh hanya menjadi simbol kebanggaan daerah, tapi harus menjadi motor kemajuan Agara,” tegas Bupati.
Program-program pengabdian masyarakat, riset terapan, serta kemitraan produktif dengan dunia usaha diharapkan menjadi agenda rutin dalam kehidupan akademik kampus.
Ady

































