Rilis Bukan Berita Jadi : Wartawan Didorong Lebih Obyektif dan Kreatif dalam Menulis

LIA HAMBALI

- Redaksi

Senin, 6 Oktober 2025 - 14:37 WIB

50186 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

​Sidoarjo || Agaranews.com -Senin, (6/10/25) Kemitraan antara Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Sidoarjo dengan awak media lokal tengah menjadi sorotan tajam. Rilis berita pemerintah yang didistribusikan melalui grup media dinilai kehilangan nilai jurnalistik karena sebagian besar wartawan yang terdata resmi justru tidak menindaklanjuti, atau lebih parah, hanya melakukan copy paste mentah tanpa proses olah dan verifikasi.

​Kondisi ini memicu kritik keras dari kalangan pengamat media dan internal pers sendiri, yang menyebut praktik tersebut sebagai gejala kemunduran profesionalisme dan ancaman serius bagi ekosistem komunikasi publik yang sehat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Dalam teori komunikasi publik, rilis (siaran pers) sejatinya adalah bahan mentah atau jembatan informasi awal yang membutuhkan sentuhan analisis, penafsiran, dan penguatan data lapangan dari seorang jurnalis. Tujuannya agar informasi yang sampai ke masyarakat menjadi utuh dan berimbang.

​Namun, pengamatan di grup media Kominfo Sidoarjo menunjukkan realitas yang memprihatinkan. Dari puluhan nama wartawan yang tercatat, hanya segelintir yang benar-benar mengubah rilis menjadi berita yang memiliki sudut pandang khas dan nilai tambah. Sebagian besar lainnya dicurigai jarang atau bahkan tidak pernah menaikkan rilis ke media masing-masing.

​Lebih meresahkan lagi, sebagian dari yang menayangkan rilis terbukti hanya menyalin teks. Mereka gagal menjalankan fungsi esensial jurnalisme verifikasi, olah data, dan analisis konteks.

​”Menulis ulang dengan analisis dan akal sehat adalah bentuk tanggung jawab jurnalis. Rilis yang tidak diolah hanyalah teks mati tanpa makna,” ujar seorang Pengamat Media Lokal di Sidoarjo yang enggan disebut namanya, menyoroti krisis nalar jurnalistik di lapangan.

​Kritik ini tidak hanya ditujukan kepada wartawan, tetapi juga kepada Kominfo. Lembaga pemerintah didorong untuk segera mengubah pola distribusi informasinya agar bisa menjadi alat uji profesionalisme bagi para mitra media.

​Kominfo disarankan untuk tidak hanya mengirimkan teks narasi semata. Mereka perlu menyertakan DOM (Data, Objek, dan Makna) yang lebih rinci pada setiap rilis. Langkah ini dianggap krusial agar wartawan memiliki pijakan untuk mengurai substansi, menafsirkan, dan menulis sesuai karakter media masing-masing.

​”Rilis tanpa ruang tafsir hanya mematikan daya kritis wartawan. Padahal jurnalisme hidup dari proses berpikir dan olah makna,” tegas salah satu Wartawan Lokal Senior, menggarisbawahi pentingnya rilis yang memancing kerja jurnalistik, bukan sekadar mempermudah penyalinan.

​Kondisi ini membawa pada tuntutan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas grup media dan sistem kemitraan yang selama ini dibentuk. Jumlah nama dalam daftar kemitraan tidak lagi bisa menjadi tolok ukur keberhasilan komunikasi publik jika partisipasi aktif dan kualitas liputannya sangat rendah.

​Pers daerah sejatinya memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan informasi. Peran tersebut akan kehilangan bobot bila wartawannya tidak aktif, apalagi hanya menjadi corong informasi pemerintah tanpa filter dan analisis kritis.

​Pada akhirnya, Kominfo Sidoarjo dituntut berani menata ulang sistem kemitraan media, dengan mengedepankan kualitas partisipasi dan integritas pemberitaan, bukan sekadar jumlah nama yang terdaftar untuk memenuhi kuota.

​Sinergi antara Kominfo dan pers tidak boleh berhenti di ruang grup WhatsApp. Komunikasi publik harus hidup di ruang redaksi, di lapangan, dan di ruang dialog profesional, di mana jurnalisme yang sehat dan kritis bisa lahir.

​Antara Kominfo dan wartawan, komunikasi publik bukan sekadar kirim dan tayang, tetapi olah pikir dan tanggung jawab bersama.(Arju Herman/Lia Hambali)

Penulis : Didik Karaeng

Berita Terkait

Demokrasi Sakit Jika Pers Dibungkam ! FPII : Kriminalisasi Jurnalis Adalah Kejahatan Konstitusi
LDII Jakarta Utara Satukan Langkah, Tingkatkan Kapasitas Organisasi Berbasis Ekoteologi
Ribuan Warga Padati Launching Jalan Santai Jasutra, Tebar 800 Bibit Nila dan Lele di Danau Duta Harapan Bekasi Utara
Generasi Muda LDII Rungkut Kidul Edukasi Peduli Lingkungan Lewat Bank Sampah
Kades Buncitan Ditemukan Meninggal Dunia di Balai Desa
Waspada Konsumen, Perusahaan MDM di Sidoarjo Diduga Gunakan Logo Halal Palsu dan Label PT Bodong
Danramil 03/Dewantara Pimpin Langsung Pembangunan Balai Yayasan Miftahul Jannah
Konsolidasi DPD LDII Jakarta Utara : Dorong Kapasitas PC dan PAC setara DPP

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 00:43 WIB

Demokrasi Sakit Jika Pers Dibungkam ! FPII : Kriminalisasi Jurnalis Adalah Kejahatan Konstitusi

Senin, 4 Mei 2026 - 00:39 WIB

LDII Jakarta Utara Satukan Langkah, Tingkatkan Kapasitas Organisasi Berbasis Ekoteologi

Senin, 4 Mei 2026 - 00:33 WIB

Ribuan Warga Padati Launching Jalan Santai Jasutra, Tebar 800 Bibit Nila dan Lele di Danau Duta Harapan Bekasi Utara

Senin, 4 Mei 2026 - 00:25 WIB

Generasi Muda LDII Rungkut Kidul Edukasi Peduli Lingkungan Lewat Bank Sampah

Senin, 4 Mei 2026 - 00:20 WIB

Kades Buncitan Ditemukan Meninggal Dunia di Balai Desa

Minggu, 3 Mei 2026 - 23:02 WIB

Danramil 03/Dewantara Pimpin Langsung Pembangunan Balai Yayasan Miftahul Jannah

Minggu, 3 Mei 2026 - 22:49 WIB

Konsolidasi DPD LDII Jakarta Utara : Dorong Kapasitas PC dan PAC setara DPP

Minggu, 3 Mei 2026 - 22:32 WIB

PK PMII UIN Ar-Raniry Sukses Laksanakan MAPABA di STAI Tengku Chik Pante Kulu

Berita Terbaru

HEADLINE

Kades Buncitan Ditemukan Meninggal Dunia di Balai Desa

Senin, 4 Mei 2026 - 00:20 WIB