Pakpak Bharat, AgaraNews.com // Babinsa Koramil 07/Salak, Kodim 0206/Dairi, Sertu S. Boangmanalu melaksanakan kegiatan Pembinaan Teritorial (Binter) dengan pendekatan komunikasi sosial di Desa Silimakuta, Kecamatan STTU Julu, Kabupaten Pakpak Bharat, Selasa (23/12/2025). Kegiatan ini menyasar langsung aktivitas ekonomi rakyat, salah satunya proses pengolahan kopi Arabika secara tradisional yang masih dipertahankan warga setempat.
Dalam kunjungannya, Babinsa melihat langsung Frengky Berutu, anak dari Yansen Berutu, yang tengah menumbuk biji kopi Arabika kering menggunakan lesung batu di teras rumahnya. Proses ini menjadi pemandangan khas pedesaan yang sarat nilai budaya, sekaligus cerminan ketekunan masyarakat dalam menjaga kualitas hasil pertanian dengan metode sederhana namun bernilai tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat berbincang santai, Yansen Berutu menjelaskan bahwa menumbuk kopi dengan lesung dan alu merupakan warisan turun-temurun yang masih dijaga hingga kini. Sebelum ditumbuk, biji kopi disangrai secara tradisional di atas tungku kayu bakar hingga tingkat kematangan tertentu, kemudian didinginkan agar teksturnya rapuh dan mudah dihaluskan. Proses penumbukan dilakukan perlahan namun bertenaga, bisa memakan waktu hingga satu jam untuk menghasilkan bubuk kopi dengan aroma khas.
Setelah ditumbuk, bubuk kopi diayak guna memisahkan butiran halus dan kasar. Menurut Yansen, metode tradisional ini dipercaya mampu menjaga cita rasa dan aroma asli kopi karena tidak terpapar panas berlebih seperti pada mesin penggiling modern. Dari sisi ekonomi, biji kopi Arabika kering yang telah dikupas dijual seharga Rp65.000 per kilogram, sementara bubuk kopi yang diolah secara tradisional bernilai hingga Rp150.000 per kilogram.
Danramil 07/Salak, Kapten Inf A. Sagala, melalui Babinsa menyampaikan bahwa TNI AD melalui peran Babinsa terus mendorong pelestarian kearifan lokal yang berdampak langsung pada ketahanan ekonomi masyarakat. Pendampingan dan motivasi kepada warga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk lokal, sekaligus menjaga tradisi agar tetap hidup dan menjadi kebanggaan daerah.(Lia Hambali)
(Prajurit Pena)

































