ACEH SINGKIL agaranews.com – Himpitan ekonomi semakin terasa bagi masyarakat kelas menengah ke bawah di Aceh Singkil, khususnya para petani sawit di Desa Suro Makmur. Kenaikan harga pupuk bersubsidi yang kian meroket menjadi pukulan berat, memaksa sejumlah petani untuk meninggalkan sebagian perawatan kebun mereka dan beralih mencari pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan harian.
Salah seorang petani setempat, yang meminta inisialnya disebut Md agar identitasnya tidak dipublikasikan, mengungkapkan kegelisahannya. Meski memiliki lahan sawit, ia mengaku kesulitan merawat tanaman karena keterbatasan biaya operasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya tidak bisa hanya bergantung dari hasil kebun. Mahalnya harga pupuk yang tidak bisa dijangkau membuat saya terpaksa meninggalkan usaha kebun untuk sementara waktu. Jika saya fokus membersihkan kebun, saya tidak mendapat upah harian untuk menutup belanja sehari-hari. Bagi saya yang serba kekurangan, membeli pupuk adalah hal yang sangat berat,” keluh Md dengan nada sedih, saat ditemui di lahannya.
Md menambahkan bahwa ketidakpastian pendapatan menjadi beban psikologis yang berat. “Setiap malam saya berpikir terus apa lagi untuk belanja besok hari. Pekerjaan sampingan pun tidak setiap hari ada, terkadang ada terkadang tidak. Ini yang bikin pusing bagi kami,” ungkapnya.
Kondisi ini mendorong para petani di Desa Suro untuk berharap adanya intervensi konkret dari Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil. Mereka mendesak Bupati H. Safriadi Oyon, SH, untuk memperhatikan nasib petani kecil melalui kebijakan yang meringankan beban ekonomi.
“Saya berharap Bupati Aceh Singkil dapat membantu petani lemah, salah satunya dengan memastikan ketersediaan bantuan pupuk subsidi dengan harga yang terjangkau. Jika daerah ini maju dan lapangan kerja terbuka, tentu perekonomian kami akan lebih baik. Namun saat ini, bantuan pupuk adalah harapan terbesar kami,” tutup Md. (Redaksi)

















