Modus ” Satu Paket ” Yang Membukukan Polri : Satu Paket Harapan Dipundak Kapolri Baru

LIA HAMBALI

- Redaksi

Rabu, 14 Oktober 2026 - 08:52 WIB

5096 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, AgaraNews.com // Kita layak menyambut baik tekad Kapolri baru Jenderal Polisi Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si., yang mengusung program “Polisi Bersama Masyarakat” untuk transformasi kelembagaan 2026-2029, dan Kapolda Metro Jaya baru Komjen Pol. Prof. Dr. H. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si., yang mempublikasikan nomor WhatsApp untuk laporan langsung warga.

Saya simpulkan keduanya sebagai satu paket. Satu paket tekad di jajaran Polri dan satu paket harapan di pihak warga.

Pada hari ini kepercayaan publik kepada Polri masih cukup tinggi, tapi keberhasilan Polri tidak bisa diukur hanya dari survei atau jumlah kasus yang diungkap. Ukuran yang lebih nyata adalah pengalaman warga ketika berhadapan langsung dengan polisi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dan ingin saya laporkan, istilah “satu paket” kini justru dijadikan modus untuk membusukkan Polri dari dalam. Ini tantangan terbesar bagi Kapolri dan Kapolda yang baru.

1. Satu Paket dalam Rekrutmen: Masuk Polisi Tidak Gratis

Banyak warga ingin mengabdi sebagai polisi namun dirusak sejak awal seleksi dengan dalih paket bimbingan tes.

Bahkan dari keluarga polisi sendiri gagal menjadi polisi karena “tidak ikut paket”. Ramai diberitakan sogokan ratusan juta hingga miliaran tetap tersisih karena tidak ikut “satu paket” bimbingan tes sekaligus paket untuk program kelanjutannya hingga lolos seleksi.

Keharusan “ikut paket” ini menimbulkan biaya tinggi dan berujung pada investasi yang harus dicari kembaliannya. Menjadi polisi di negeri ini selain mempertaruhkan nyawa juga setor harta.

Untuk itu tolong hentikan dulu kampanye “Masuk Polisi Gratis” sampai benar-benar terbukti gratis. Karena di lapangan masih ada bimbingan tes dan lobi seleksi yang “satu paket” sebagai jalan mendapatkan seragam coklat.

2. Satu Paket dalam Penindakan: Yang Salah dan Tidak Salah Dihukum Sama

Kepada Kapolri baru dan lebih khusus Kapolda Metro, saya tegaskan bahwa anak buah bapak di polsek dan polres masih banyak yang makan uang haram. Masih memeras warga yang tidak terbukti bersalah dengan dalih “satu paket”.

Mereka meminta tebusan kepada para terduga pemilik barang haram dan teman-temannya. Targetnya warga miskin dan buta hukum. Penyebutan oknum menjadi gamang karena mereka berkantor resmi dan melakukan secara terang-terangan.

Konon hasil uang pemerasan itu untuk disetorkan ke atas agar tidak dimutasi ke wilayah jauh dan rawan. Sebagiannya untuk operasional dan menafkahi keluarga. Stop mengira jajaran Anda bersih.

Anggaran Polri dari tahun ke tahun melambung melampaui Rp110 triliun. Tapi di bawah anak buah masih “ngragas” mendzalimi orang miskin.

Contoh kasus :

Anak-anak remaja nongkrong, sekadar bergaul agar tidak dibully. Suatu hari seorang remaja diminta kawannya mengantar ke rumah teman lain yang ternyata sedang “maping” – istilah untuk mengambil narkoba. Sampai di titik, mereka disergap.

Si terduga pelaku belum sempat mengambil barang, mencoba lari, lalu dipaksa mencari barang. Tiba-tiba polisi yang menangkap yang menemukan barangnya. Barang bukti diberikan oleh pihak yang menyergap.

Masalahnya, yang disergap langsung dianggap bersalah. Temannya yang memboncengkan dan tidak tahu apa-apa dituduh sebagai “joki”. Keduanya diangkut, tes urine bersih, tapi tidak dilepas dan tidak ditahan. Oknum di sana minta si bocah menghubungi keluarga dan minta tebusan jutaan rupiah. Alasannya: “satu paket”.

Kasus lain, razia remaja bermotor. Satu anak bawa sajam, sejumlah anak yang mengiringi ikut diangkut, ditahan dan dimintai tebusan. Logika hukumnya, pasal pidana hanya berlaku bagi pemegang sajam. Tapi polisi menerapkan “satu paket”.

Di kantor polisi, “Markus” – makelar kasus – berseliweran bak dewa penolong: “Kasihan anak ibu tidak bersalah. Harusnya dilepas. Saya bisa bantu. Tolong sediakan Rp20 juta. Soalnya ini ‘satu paket’, buat empat orang. Saya kenal Kasatreskrim-nya, orang baik, rajin ibadah.”

Siapa yang dibujuk? Ibu-ibu tukang gorengan, penjaja kue, buruh cuci dan setrika. Diminta masing-masing Rp5 juta.

Harapan Baru

Ini bukan cerita fiksi. Saya tahu karena cerita dari mereka yang mengalami.

Kepada Bapak Kapolri, Anda akan membuat sejarah jika mampu mengubah keyakinan masyarakat: bahwa anak seseorang bisa menjadi polisi bukan karena uang orang tuanya, melainkan karena kemampuan, integritas dan kelayakannya.

Dan bersama Polda Metro Jaya yang baru, tolong hapus juga budaya “no viral, no justice”. Keluhan masyarakat harus menjadi sistem peringatan dini. Kalau laporan yang sama terus muncul, jangan selalu disebut ulah oknum. Bisa jadi yang bermasalah adalah sistemnya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Kapolri bukan berapa banyak konferensi pers yang digelar. Ukuran sederhananya adalah: ketika warga datang ke kantor polisi tanpa rasa takut, karena datang pada pengayom dan pelindung. Bukan datang dengan was-was menebus anak yang kena “razia satu paket”.

Pergantian Kapolri dan Kapolda selalu menarik perhatian. Bukan semata pergantian pucuk pimpinan institusi dengan lebih dari setengah juta anggota, tetapi karena setiap Kapolri membawa harapan baru terhadap wajah kepolisian Indonesia.

Anda berdua adalah “satu paket” harapan bagi warga untuk menghapus praktik “satu paket” penyimpangan di internal Polri sendiri.(Lia Hambali)

Reporter : Supriyadi

Berita Terkait

Ketua MWC NU Makassar Menerima Penghargaan Internasional 
Muslim Ayup : Infrastruktur Simeulue Butuh Perhatian, Muslim Ayup Ajak Komisi V DPR RI Bergerak Bersama
Diduga Dikerjakan Asal Jadi, Proyek PSU Rp189,47 Juta di Cikamunding Disorot, Penerapan K3 dan APD Dipertanyakan
PANJI HITAM PUTRA NUSANTARA : Teguhkan Sumpah Pemuda, Junjung Tinggi Kebenaran dan Keadilan
Polresta Sidoarjo Ungkap Dugaan Penipuan WNA Vietnam, Sita 20 Ponsel dan 7 Laptop
Dua Kali Somasi Diabaikan, Zainal Laporkan Supri ke Polres Tanjung Perak atas Dugaan Penyerobotan Rumah
Bakar Semangat Sumpah Pemuda ke-98, Ketua DPD SPMI Karo Sitta P Gurning : Saatnya Pemuda Karo Unjuk Karya, Bukan Hanya Janji,..!!! 
KNPI Energy of Harmony Tanjungbalai Tegaskan: Persatuan Pemuda Jangan Dibangun di Atas Klaim Sepihak,..!!!

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Ketua MWC NU Makassar Menerima Penghargaan Internasional 

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:59 WIB

Muslim Ayup : Infrastruktur Simeulue Butuh Perhatian, Muslim Ayup Ajak Komisi V DPR RI Bergerak Bersama

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:54 WIB

Diduga Dikerjakan Asal Jadi, Proyek PSU Rp189,47 Juta di Cikamunding Disorot, Penerapan K3 dan APD Dipertanyakan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:38 WIB

PANJI HITAM PUTRA NUSANTARA : Teguhkan Sumpah Pemuda, Junjung Tinggi Kebenaran dan Keadilan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:25 WIB

Dua Kali Somasi Diabaikan, Zainal Laporkan Supri ke Polres Tanjung Perak atas Dugaan Penyerobotan Rumah

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:18 WIB

Bakar Semangat Sumpah Pemuda ke-98, Ketua DPD SPMI Karo Sitta P Gurning : Saatnya Pemuda Karo Unjuk Karya, Bukan Hanya Janji,..!!! 

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:10 WIB

KNPI Energy of Harmony Tanjungbalai Tegaskan: Persatuan Pemuda Jangan Dibangun di Atas Klaim Sepihak,..!!!

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:02 WIB

Kecelakaan di Depan RS Efarina Berastagi, Parkir Liar di Bahu Jalan Jadi Sorotan

Berita Terbaru

HEADLINE

Ketua MWC NU Makassar Menerima Penghargaan Internasional 

Rabu, 28 Okt 2026 - 16:05 WIB