ACEH TENGGARA – Agaranews.com// Di sebuah gubuk sederhana berukuran sekitar 2×2 meter di Desa Kuta Rih, Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara, seorang lansia bernama Jumarin menjalani hari-hari tuanya dalam kesunyian.
Di tengah keterbatasan fisik, penyakit menahun yang dideritanya membuat Jumarin kesulitan berjalan. Dalam usia senja, ia harus menghadapi kehidupan yang tidak mudah, jauh dari kenyamanan tempat tinggal dan perhatian yang semestinya dapat dinikmati seorang lansia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi memprihatinkan tersebut menjadi perhatian Anggota DPRA, Yahdi Hasan, yang turun tangan untuk mengupayakan bantuan bagi Jumarin, Sabtu (31/10/2026).
Bagi Jumarin, gubuk kecil itu bukan sekadar tempat berteduh. Di sanalah ia melewati hari demi hari, menghadapi keterbatasan hidup dengan kondisi tubuh yang semakin lemah.
Melihat keadaan tersebut, Yahdi Hasan bergerak cepat menginisiasi penyaluran bantuan paket sembako melalui saluran bantuan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf.
Bantuan itu kemudian diserahkan langsung ke lokasi oleh pendamping sosial Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Ratna Yunita. Penyaluran tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan beban kebutuhan sehari-hari Jumarin.
Namun, bagi Yahdi Hasan, membantu Jumarin tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan sembako. Ada persoalan lebih besar yang harus diperjuangkan, yakni bagaimana memastikan lansia penyandang disabilitas tersebut memperoleh perhatian dan bantuan secara berkelanjutan.
Karena itu, langkah advokasi jangka panjang mulai disiapkan. Saat ini, proses pengumpulan sejumlah dokumen administrasi tengah dilakukan, meliputi Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), surat rekomendasi Pengulu Kute, serta buku rekening.
Berkas tersebut nantinya akan diajukan kepada Baitul Mal Aceh agar Jumarin dapat diusulkan sebagai penerima bantuan berkelanjutan melalui dana zakat maupun infak, sesuai ketentuan dan hasil verifikasi lembaga terkait.
Yahdi berharap, melalui upaya tersebut, Jumarin tidak hanya mendapatkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga memiliki harapan untuk menjalani masa tuanya dengan lebih layak.
Kisah Jumarin menjadi pengingat bahwa di tengah kehidupan masyarakat, masih ada warga yang membutuhkan perhatian serius. Mereka mungkin tinggal di tempat sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan, tetapi hak untuk mendapatkan kepedulian dan perlindungan sosial tetap sama.
Sebab, kepedulian terhadap sesama tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, sebuah kunjungan, sebungkus sembako, dan kesediaan memperjuangkan hak seseorang dapat menjadi awal hadirnya harapan baru.
Bagi Jumarin, perhatian itu mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi seorang lansia yang menghabiskan hari-harinya di dalam gubuk kecil, kepedulian tersebut menjadi bukti bahwa dirinya masih diperhatikan dan tidak dilupakan. Ady

























