ACEH TENGGARA, AGARANEWS– Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Babussalam (STITBA) Aceh Tenggara menggelar Seminar Nasional bertema “Peran Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia”, Selasa, 2 November 2026.
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark dengan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Babussalam (STITBA) Aceh Tenggara.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Seminar nasional ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Azizul Kholis, S.E., M.Si., M.Pd., CMA., CSRS., dan Harli, M.Ag. Acara secara resmi dibuka oleh Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Babussalam Aceh Tenggara, Muhammad Rifa’i Matondang.
Dalam pemaparannya, Dr. Azizul Kholis menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Geopark Go to Campus yang dilaksanakan Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kemitraan dan kerja sama antarlembaga pendidikan tinggi, khususnya antara kawasan Danau Toba dan Taman Nasional Gunung Leuser yang sama-sama memiliki potensi besar di Pulau Sumatera.

“Hari ini kami melaksanakan penandatanganan MoU antara pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark dengan STITBA Aceh Tenggara. Tujuannya untuk memperkuat kerja sama, khususnya dalam bidang pendidikan, kemitraan, dan pengembangan perguruan tinggi,” ungkap Dr. Azizul Kholis.
Ia menegaskan, salah satu sasaran utama kegiatan tersebut adalah memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai pentingnya pembangunan berkelanjutan yang mencakup tiga aspek utama, yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Menurutnya, mahasiswa STITBA memiliki peran strategis karena kelak akan menjadi pendidik dan pemimpin di tengah masyarakat. Mereka diharapkan mampu menanamkan kepedulian terhadap konservasi alam, pendidikan, serta pelestarian kebudayaan lokal.
Lebih lanjut, Dr. Azizul Kholis menjelaskan bahwa konsep Geopark bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu keragaman geologi, keanekaragaman hayati, dan keragaman budaya.
Ia juga menyoroti kekayaan budaya masyarakat Alas di Aceh Tenggara yang dinilainya memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan diperkenalkan secara lebih luas.
“Kita mengetahui bahwa budaya Alas sangat kuat dan kaya dengan keberagaman. Karena itu, kami mendorong mahasiswa agar memiliki kepedulian terhadap budaya daerahnya. Kami juga berharap pihak kampus dapat membangun pojok budaya sebagai salah satu bentuk nyata dari kerja sama ini,” jelasnya.
Sementara itu, Pimpinan STITBA Aceh Tenggara, Dr. (Cand) Harli Selian, M.Ag., menyampaikan apresiasi dan menyambut baik kehadiran Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark dalam memberikan pencerahan dan wawasan kepada mahasiswa.
Menurut Harli, kegiatan tersebut memiliki arti penting karena sejalan dengan kurikulum yang sedang dikembangkan oleh STITBA. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran secara teoritis di ruang perkuliahan, tetapi juga memperoleh wawasan mengenai pembangunan berkelanjutan, konservasi lingkungan, dan pelestarian kebudayaan daerah.
Ia berharap, kerja sama yang telah dibangun melalui penandatanganan MoU tersebut dapat ditindaklanjuti dengan program-program nyata yang memberikan manfaat bagi perguruan tinggi dan masyarakat Aceh Tenggara.
Salah satu harapan besarnya adalah lahirnya sebuah produk akademik berupa buku tentang kebudayaan Aceh Tenggara yang disusun berdasarkan landasan metodologis dan kajian ilmiah yang kuat.
“Kami berharap ke depan dari seminar ini ada hasil atau produk berupa buku yang memiliki landasan metodologis yang kuat. Dengan demikian, pihak luar dapat mengeksplorasi dan memahami Aceh Tenggara melalui referensi yang jelas, khususnya mengenai kekayaan kebudayaan yang ada di daerah ini,” ungkap Harli.
Menurutnya, dokumentasi kebudayaan melalui karya ilmiah dan buku sangat penting agar kekayaan tradisi, adat istiadat, serta identitas masyarakat Alas dapat dikenal lebih luas dan menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang.
Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seminar dan penandatanganan MoU semata, tetapi mampu melahirkan berbagai program berkelanjutan, mulai dari pengembangan pendidikan, penelitian, dokumentasi budaya, hingga penguatan kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui kerja sama tersebut, STITBA Aceh Tenggara diharapkan dapat mengambil peran lebih luas dalam memperkenalkan potensi alam dan kekayaan budaya Tanah Alas, sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
(SAIPULLAH)

























