Konflik Pemkab Kubu Raya dan PT Angkasa Pura II Dinilai Hanya Salah Paham Teknis, Pengamat: “Sebaiknya Diselesaikan dengan Dialog, Bukan Emosi”

LIA HAMBALI

- Redaksi

Kamis, 9 Oktober 2025 - 23:28 WIB

50103 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Pontianak, Kalimantan Barat — 9 Oktober 2025, AgaraNews.com // Persoalan antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kubu Raya dengan PT Angkasa Pura II kembali menjadi sorotan publik. Pengamat hukum dan kebijakan publik, Dr. Herman Hofi Munawar, menilai bahwa polemik tersebut sejatinya hanya merupakan kesalahpahaman administratif yang seharusnya dapat diselesaikan melalui koordinasi antar lembaga, bukan konfrontasi terbuka.

Menurut Dr. Herman, akar masalah bermula dari pemasangan penerangan di kawasan Bundaran Supadio oleh Pemkab Kubu Raya, yang bertujuan untuk menjawab keluhan masyarakat mengenai minimnya pencahayaan di area tersebut. Upaya itu, katanya, merupakan langkah tepat sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah daerah terhadap kebutuhan dasar dan keselamatan masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Upaya Pemkab untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat ini adalah langkah yang tepat,” ujar Dr. Herman saat dikonfirmasi di Pontianak, Kamis (9/10/2025).

Namun, menurutnya, respons Bupati Kubu Raya, Sujiwo, terhadap penghentian sementara pekerjaan oleh pihak PT Angkasa Pura II dinilai kurang proporsional dan bernada emosional.

Nada yang disampaikan Bupati terkesan arogan dan kurang menghargai dinamika koordinasi antar lembaga. Sikap ini, bukannya menyelesaikan masalah, justru berpotensi memperburuk hubungan birokrasi,” jelasnya.

Dr. Herman menegaskan bahwa wilayah sekitar Bandara Supadio memang memiliki kewenangan tertentu di bawah pengelolaan PT Angkasa Pura II. Karena itu, ia menilai perlu adanya komunikasi dan koordinasi agar kebijakan Pemkab tidak berbenturan dengan aspek teknis dan keamanan bandara.

Memang benar penerangan publik adalah kewajiban pemerintah daerah, tetapi pengelola bandara juga punya tanggung jawab atas kawasan operasionalnya. Maka, pendekatan yang harmonis dan profesional menjadi kunci,” tambahnya.

Menurutnya, konflik ini tidak seharusnya dimaknai sebagai upaya menghalangi pembangunan, melainkan proses koordinatif yang perlu disikapi dengan sikap terbuka dan dialogis.

Lebih jauh, Dr. Herman menilai bahwa reaksi emosional dari kepala daerah justru dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap kemampuan birokrasi dalam menyelesaikan masalah lintas sektor.

Masyarakat ingin melihat bahwa pemerintah daerah mampu bekerja sama dengan lembaga lain, bukan terjebak pada konflik personal. Kalau semuanya dikembalikan pada mekanisme dialog dan verifikasi, persoalan sederhana seperti ini akan selesai tanpa gaduh,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar para pejabat publik menjaga wibawa komunikasi antar instansi, karena setiap pernyataan di ruang publik akan membentuk persepsi masyarakat.

Dalam konteks pelayanan publik, komunikasi terbuka dan koordinasi adalah fondasi utama. Jangan sampai perbedaan teknis justru menjadi konsumsi politik yang memperkeruh suasana,” ujarnya.

Dr. Herman Hofi Munawar menegaskan bahwa dialog dan kompromi antar lembaga harus menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Ia berharap baik Pemkab Kubu Raya maupun pihak PT Angkasa Pura II segera duduk bersama untuk mencari solusi tanpa harus memunculkan narasi saling menyalahkan.

Tujuan akhirnya adalah pelayanan publik yang optimal. Kalau semua pihak bisa menahan ego dan duduk bersama, maka persoalan sederhana tidak akan menjadi konflik besar,” tutupnya.(Lia Hambali/

Sumber: Dr. Herman Hofi Munawar Pengamat Hukum dan Kebijakan Publik

Berita Terkait

Babinsa Syamtalira Bayu Bantu Warga Jemur Padi
Belasan Tahun Warga Pasar Rawa Menunggu Air Bersih Layak Konsumsi,TMMD Datang Tanah Langsung di Bor
Air Bersih Layak Konsumsi Tersembur Dari Bumi Langkat,Ribuan Warga Ucapkan Terimakasih kepada TNI
Dari Program TMMD, Enam Meter yang Mengubah Arah Hidup Warga Pasar Rawa
Belasan Tahun Menunggu Air Bersih, TMMD Mengakhiri Dahaga Warga Pasar Rawa
TNI Polri ‘Meyerbu’ Desa Pasar Rawa,Komitmen Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Rehab RTLH
Akhirnya Mengalir di 2026: 5 Sumur Bor Datang ke Pasar Rawa Lewat TMMD
Enam Meter yang Menggerakkan Desa: Jembatan TMMD 128 Siap Ubah Arah Ekonomi Pasar Rawa

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 14:59 WIB

Babinsa Syamtalira Bayu Bantu Warga Jemur Padi

Senin, 4 Mei 2026 - 14:54 WIB

Belasan Tahun Warga Pasar Rawa Menunggu Air Bersih Layak Konsumsi,TMMD Datang Tanah Langsung di Bor

Senin, 4 Mei 2026 - 14:53 WIB

Air Bersih Layak Konsumsi Tersembur Dari Bumi Langkat,Ribuan Warga Ucapkan Terimakasih kepada TNI

Senin, 4 Mei 2026 - 14:50 WIB

Dari Program TMMD, Enam Meter yang Mengubah Arah Hidup Warga Pasar Rawa

Senin, 4 Mei 2026 - 14:44 WIB

TNI Polri ‘Meyerbu’ Desa Pasar Rawa,Komitmen Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Rehab RTLH

Senin, 4 Mei 2026 - 14:40 WIB

Akhirnya Mengalir di 2026: 5 Sumur Bor Datang ke Pasar Rawa Lewat TMMD

Senin, 4 Mei 2026 - 14:38 WIB

Enam Meter yang Menggerakkan Desa: Jembatan TMMD 128 Siap Ubah Arah Ekonomi Pasar Rawa

Senin, 4 Mei 2026 - 14:36 WIB

Prajurit Turun Tangan di Pasar Rawa, Rumah Reyot Dibongkar, Harapan Dibangun

Berita Terbaru

HEADLINE

Babinsa Syamtalira Bayu Bantu Warga Jemur Padi

Senin, 4 Mei 2026 - 14:59 WIB