Jakarta,AgaraNews.com // Dalam Press Conference di Tebet, Aktivis 98 Bilung Silaen membongkar borok kekuasaan hari ini: Presiden Prabowo Subianto diduga disadap, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo terseret, dan nama Joko Widodo terus membayangi dari balik layar.
Ini bukan lagi gosip intelijen. Ini bukti negara ini sedang dirampok dari dalam.
“Kalau presiden saja bisa disadap, apalagi rakyat? Kalau presiden saja tidak aman di negerinya sendiri, lalu siapa yang bisa menjamin keamanan rakyat?” tanya Bilung Silaen dengan nada keras.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Bilung, penyadapan ini adalah pengakuan paling jujur dari kekuasaan: mereka tidak lagi percaya pada rakyat, mereka bahkan tidak percaya pada sesama penguasa.
Elite saling mengintai. Elite saling merekam. Elite saling mengancam dengan rekaman. Elite saling menyimpan aib untuk saling menjatuhkan. Ini bukan pemerintahan. Ini mafia yang berebut tahta.
Sementara itu, di bawah, rakyat dibiarkan sekarat sendirian.
Beras mahal. Minyak mahal. Listrik mahal. Kerja tidak ada. PHK di mana-mana. Ojol kejar setoran sampai mati di jalan. Petani rugi. Buruh ditindas. Pedagang pasar gulung tikar. Mahasiswa lulus langsung jadi pengangguran. Itu kenyataan yang tidak bisa dibantah!
“Tapi yang diurus penguasa apa? Bukan perut rakyat! Yang diurus adalah siapa menyadap siapa, siapa pegang rekaman siapa, siapa masih setia pada Jokowi dan siapa yang mau menjilat Prabowo!” tegas Bilung.
Inilah kemunduran paling memalukan sejak Reformasi 1998. Dulu kita tumbangkan Soeharto karena alat sadap dipakai untuk membungkam rakyat. Hari ini, 28 tahun setelah Reformasi, alat sadap itu dihidupkan lagi. Bedanya, sekarang bukan hanya rakyat yang disadap, presidennya pun disadap!
“Kalau Sigit benar terseret, itu artinya Polri sudah bukan lagi pelindung rakyat. Polri sudah berubah menjadi alat perang antar elite. Dan kalau nama Jokowi tidak pernah hilang dari setiap pusaran, itu artinya transisi itu bohong! Yang terjadi bukan pergantian sistem, tapi pergantian boneka!” lanjut Bilung.
Prabowo janji perubahan. Yang datang justru kemunduran. Demokrasi dicekik. Kritik dibungkam. Aktivis diintimidasi. Hukum tajam ke rakyat, tumpul ke penguasa. Ekonomi rakyat dibiarkan hancur, sementara elite sibuk bagi-bagi jabatan dan proyek.
Rakyat tidak butuh presiden yang sibuk ketakutan disadap. Rakyat tidak butuh Kapolri yang sibuk membersihkan namanya. Rakyat tidak butuh mantan presiden yang sibuk mengatur dari belakang layar.
Rakyat butuh makan! Rakyat butuh kerja! Rakyat butuh keadilan!
Penyadapan Prabowo adalah simbol busuknya kekuasaan hari ini: mereka lebih takut kehilangan jabatan daripada takut rakyat kelaparan.
Bilung Silaen menutup dengan peringatan keras:
“Hentikan politik sadap-menyadap! Hentikan politik intrik! Kembalikan negara ini kepada rakyat! Jangan biarkan Prabowo, Sigit, dan Jokowi menyeret bangsa ini kembali ke era kegelapan, ke era di mana negara mengintai warganya sendiri!”
“Setiap tempat adalah Karbala”
“Setiap waktu adalah Asyura”
Tuhan bersama orang-orang yang berani dan benar
MERDEKA 100%. ( Lia Hambali)
*POROS 98*

























