Melihat Kepemimpinan Kapolda Riau: Antara Teknokrasi, Transformasi, dan Sentuhan Populis

LIA HAMBALI

- Redaksi

Selasa, 28 April 2026 - 19:08 WIB

5046 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh : Fadila Saputra

Opini, AgaraNews.com // Sejak menjabat sebagai Kapolda Riau, Herry Heryawan menunjukkan kiprah yang relatif menonjol dalam merespons isu-isu strategis di daerah. Tidak hanya berfokus pada penegakan hukum konvensional, ia juga mendorong pendekatan yang lebih luas, mulai dari penguatan keamanan berbasis masyarakat, respons cepat terhadap bencana di wilayah Sumatera, hingga pengenalan konsep Green Policing yang mengaitkan tugas kepolisian dengan isu lingkungan.

Dalam beberapa kasus, seperti penanganan persoalan sosial di Panipahan, Rokan Hilir, ia bahkan turun langsung berdialog dengan masyarakat, menegaskan pendekatan yang tidak semata birokratis, tetapi juga komunikatif.

Dalam perspektif akademik, gaya kepemimpinan tersebut dapat dibaca melalui beberapa teori utama. Pertama, dari sudut pandang kepemimpinan transformasional yang diperkenalkan oleh James MacGregor Burns dan Bernard M. Bass, terlihat adanya upaya membangun visi dan perubahan paradigma.

Konsep Green Policing menjadi contoh nyata bagaimana institusi kepolisian diarahkan tidak hanya sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai aktor sosial yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Keterlibatan masyarakat dalam berbagai program juga menunjukkan dimensi inspirational motivation, sementara penguatan nilai budaya lokal Riau mencerminkan idealized influence.

Namun, fondasi utama kepemimpinan tersebut tampak lebih dekat dengan model teknokratik atau rasional-birokratik yang berakar dari pemikiran Max Weber. Latar belakang kuat di bidang reserse, pendidikan tinggi hingga jenjang doktoral, serta pendekatan kebijakan yang berbasis konsep menunjukkan bahwa keputusan-keputusan yang diambil tidak bersifat reaktif, melainkan terstruktur dan berbasis keahlian. Ini terlihat dari berbagai program yang dirancang tidak sekadar menjawab situasi, tetapi memiliki arah strategis jangka panjang.

Di sisi lain, terdapat pula sentuhan kepemimpinan populis sebagaimana banyak dikaji oleh Ernesto Laclau. Kedekatan dengan masyarakat menjadi salah satu ciri yang menonjol, baik melalui pelibatan publik dalam program keamanan dan lingkungan, maupun pendekatan komunikasi yang lebih membumi.

Aktivitas seperti olahraga bersama masyarakat dan unsur Forkopimda memperkuat citra kedekatan tersebut. Meski demikian, dimensi populis ini tampaknya lebih berfungsi sebagai alat membangun legitimasi sosial, bukan sebagai basis utama kepemimpinan.

Selain itu, gaya kepemimpinan ini juga menunjukkan karakter adaptif sebagaimana dikemukakan Ronald Heifetz. Tantangan yang dihadapi di Riau—mulai dari isu lingkungan, konflik sosial, hingga keamanan—merupakan persoalan kompleks yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan teknis semata.

Respons cepat terhadap bencana serta keterlibatan langsung dalam penyelesaian masalah di lapangan menunjukkan kemampuan untuk menyesuaikan strategi secara kontekstual dan kolaboratif.

Dari keseluruhan pendekatan tersebut, kepemimpinan Kapolda Riau dapat dikategorikan sebagai model hibrida: teknokratik–transformasional dengan pendekatan populis-adaptif.

Teknokrasi menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan, transformasional menjadi arah perubahan, populisme menjadi sarana membangun legitimasi publik, dan adaptivitas menjadi kunci menghadapi kompleksitas persoalan di lapangan.

Model seperti ini, jika konsisten dijalankan, berpotensi memperkuat institusi kepolisian tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial. Tantangannya tentu terletak pada keberlanjutan—apakah pendekatan hibrida ini mampu bertahan dalam dinamika birokrasi dan tekanan eksternal yang terus berubah.(Lia Hambali)

** Penulis merupakan  Aktivis Sosial dan Dewan Etik DPP Aliansi Media Indonesia (AMI)

Berita Terkait

Asah Naluri Tempur, Prajurit Kodim Boyolali Tempa Diri Lewat Pencak Silat Militer
Kodim 0212/TS Tuntaskan Pembangunan Jembatan Gantung Penghubung Dua Desa di Ulu Pungkut
Sigap dan Tanggap! Polsek Bosar Maligas Gerak Cepat Tangani Penemuan Mayat Petani Asal Sumbar di Dalam Truk Kawasan Industri Sei Mangkei
Antisipasi May Day 2026, Kapolres Simalungun Gelar Anev Kamtibmas — Seluruh Pejabat Utama dan Kapolsek Jajaran Dikumpulkan dalam Satu Meja
Pemadam Kebakaran di Gunungsitoli Menerima Informasi HOAX, Ini Himbauan Ka.UPTD (Damkar) Kepada Masyarakat
Kunjungi Hamparan Perak, Bupati dan Wakil Letakkan Batu Pertama Renovasi RTLH dan Buka Turnamen Futsal
dr H Asri Ludin Tambunan Sampaikan Persoalan Tanah Hingga Infrastruktur ke Pusat
Tim Asistensi Desa Pemprov Riau : Antara Kekosongan Dasar Hukum, Kompetensi Semu, dan Potensi Pemborosan Anggaran

Berita Terkait

Selasa, 28 April 2026 - 21:44 WIB

Asah Naluri Tempur, Prajurit Kodim Boyolali Tempa Diri Lewat Pencak Silat Militer

Selasa, 28 April 2026 - 21:43 WIB

Kodim 0212/TS Tuntaskan Pembangunan Jembatan Gantung Penghubung Dua Desa di Ulu Pungkut

Selasa, 28 April 2026 - 21:42 WIB

Sigap dan Tanggap! Polsek Bosar Maligas Gerak Cepat Tangani Penemuan Mayat Petani Asal Sumbar di Dalam Truk Kawasan Industri Sei Mangkei

Selasa, 28 April 2026 - 21:39 WIB

Antisipasi May Day 2026, Kapolres Simalungun Gelar Anev Kamtibmas — Seluruh Pejabat Utama dan Kapolsek Jajaran Dikumpulkan dalam Satu Meja

Selasa, 28 April 2026 - 21:37 WIB

Pemadam Kebakaran di Gunungsitoli Menerima Informasi HOAX, Ini Himbauan Ka.UPTD (Damkar) Kepada Masyarakat

Selasa, 28 April 2026 - 20:33 WIB

dr H Asri Ludin Tambunan Sampaikan Persoalan Tanah Hingga Infrastruktur ke Pusat

Selasa, 28 April 2026 - 20:25 WIB

Tim Asistensi Desa Pemprov Riau : Antara Kekosongan Dasar Hukum, Kompetensi Semu, dan Potensi Pemborosan Anggaran

Selasa, 28 April 2026 - 20:18 WIB

Pos Selal Yonif 751/VJS Berikan Pengobatan Gratis bagi Warga Kampung Dipol dan Bringin

Berita Terbaru