Medan, AgaraNews.com // Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB) Gabion, Kecamatan Medan Belawan, mengalami ketidakstabilan stok dan menuai sorotan publik serta keluhan, Sabtu (17/10/2026).
Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) dan penyalur solar di dalam kawasan PPS Belawan informasinya mengalami hambatan stok. Akibatnya, aktivitas melaut bahkan operasional pengusaha di Kawasan Berikat menjadi terganggu.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, gangguan pasokan tersebut telah terjadi sejak September 2026 hingga pertengahan Oktober ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jenis produknya berubah, stoknya sering kosong. Kami mau melaut jadi tertunda. Kalau tidak melaut, kami tidak ada penghasilan,” keluh salah seorang nelayan enggan disebutkan namanya.
Selain keterlambatan distribusi dari Pertamina, dugaan adanya pengurangan kuota BBM bersubsidi bagi nelayan turut menjadi sorotan. Para pengelola SPBN di kawasan PPSB menyebut keterlambatan pendistribusian menjadi penyebab utama kelangkaan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Pertamina Group Medan merespon informasi tersebut dan segera dilaporkan ke pimpinan untuk ditindaklanjuti.
Masyarakat nelayan dan pengusaha di kawasan PPS Belawan berharap pihak Pertamina segera memberikan penjelasan terbuka dan menormalkan kembali pasokan solar agar roda perekonomian di Pelabuhan Perikanan terbesar di Sumatera Utara ini tidak lumpuh.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, persoalan ini diduga berkaitan dengan keterlambatan distribusi, ketidaksesuaian produk yang dikirim, kendala sistem Delivery Order (DO), hingga dugaan penghentian penyaluran.
“Ketika pasokan habis, konsumen terpaksa mencari lokasi lain yang masih memiliki persediaan,” ujar narasumber lain.
Di tengah keluhan masyarakat mengenai keterbatasan pasokan, transparansi keputusan distribusi menjadi penting untuk mencegah munculnya informasi simpang siur.(Rikcy/Tim)




















