Kutacane,agaranews.com
Dalam upaya mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan unsur keagamaan, Bupati Aceh Tenggara, H. M. Salim Fakhry, S.E., M.M., menggelar pertemuan silaturahmi bersama para ulama, pimpinan Huda, serta jajaran Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Tenggara. Kegiatan tersebut berlangsung di Oproom Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) dan dihadiri sejumlah tokoh agama dan pemuka masyarakat, Selasa (15/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sambutannya, Bupati Fakhry menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya atas peran strategis para ulama dalam menjaga stabilitas sosial, moral, dan spiritual masyarakat Aceh Tenggara. Ia menekankan bahwa ulama merupakan mitra penting pemerintah dalam mewujudkan visi pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai agama dan adat istiadat yang luhur.
“Kami menyadari bahwa ulama memiliki peran yang sangat sentral dalam membimbing umat, memberikan masukan, serta menjadi rujukan moral bagi masyarakat. Karena itu, kami berharap sinergi ini terus terjalin demi kemajuan dan kesejahteraan Kabupaten Aceh Tenggara,” ujar Bupati.
Lebih lanjut, Bupati menuturkan bahwa doa dan dukungan moril dari para ulama sangat dibutuhkan dalam mengawal proses pembangunan, baik di bidang pendidikan, keagamaan, sosial, hingga pemberdayaan masyarakat. Ia pun membuka ruang seluas-luasnya bagi para ulama untuk menyampaikan saran, kritik membangun, maupun gagasan demi kemajuan daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Salim Fakhry juga mengumumkan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dalam waktu dekat akan menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten. Ia berharap peran aktif para ulama dalam menyukseskan agenda tersebut, baik sebagai pembimbing, dewan hakim, maupun penggerak partisipasi masyarakat.
Tak hanya itu, Bupati juga menyinggung penguatan aspek keagamaan di tingkat gampong (desa), dengan menekankan pentingnya kegiatan pengajian rutin di seluruh desa. Ia menegaskan telah menginstruksikan seluruh kepala desa untuk mengalokasikan anggaran kegiatan keagamaan secara proporsional, transparan, dan akuntabel dalam penggunaan dana desa.
“Kami ingin melihat bahwa setiap desa di Aceh Tenggara tidak hanya berkembang dari sisi fisik, tetapi juga memiliki kekuatan spiritual dan sosial keagamaan yang kokoh. Oleh sebab itu, pengajian dan pembinaan keagamaan harus menjadi program prioritas,” jelas Bupati.
Pertemuan silaturahmi ini ditutup dengan doa bersama dan dialog terbuka, di mana para ulama menyampaikan aspirasi serta harapan kepada pemerintah daerah, termasuk pentingnya perhatian terhadap pendidikan agama, kesejahteraan imam dan guru mengaji, serta pelestarian nilai-nilai syariat Islam di tengah dinamika kehidupan masyarakat modern.
Langkah ini menjadi bukti konkret komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dalam merangkul seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, guna membangun daerah yang religius, sejahtera, dan bermartabat.
(Ady Gegoyong)
































