Rangkayo Minang Indonesia Angkat Warisan Budaya Minangkabau Lewat Dua Seminar Internasional di Jakarta

AGARA NEWS

- Redaksi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:09 WIB

50343 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta — Rangkayo Minang Indonesia menutup rangkaian dua seminar internasional di Jakarta dengan satu gagasan besar: kebudayaan tidak seharusnya berhenti sebagai kenangan masa lalu, melainkan menjadi sumber energi intelektual untuk membentuk masa depan. Di bawah kepemimpinan Ketua Rangkayo Minang Indonesia, Dr. Susilawati, dua forum yang berlangsung pada 26 dan 27 Agustus 2026 tersebut mempertemukan sejarah, Islam, kepemimpinan, kebudayaan, dan gagasan kebangsaan dalam ruang dialog lintas generasi.

Rangkaian kegiatan berlangsung di Ruang Serbaguna M.H. Thamrin, Balai Kota DKI Jakarta, dengan menghadirkan tokoh nasional, akademisi, pemuka agama, pejabat pemerintahan, unsur militer, budayawan, serta generasi muda. Kehadiran beragam latar belakang tersebut memperlihatkan bahwa warisan Minangkabau dapat dibaca bukan hanya sebagai identitas etnis, tetapi sebagai bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai Indonesia dan dunia.

Forum pertama digelar pada Rabu, 26 Agustus 2026, melalui Seminar Internasional “Jalur Sutra Maritim dan Peradaban Islam di Nusantara” dengan tema “Memperingati 400 Tahun Warisan Syech Yusuf Al-Makassari.” Dr. (HC) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12 yang digantikan oleh Prof. Dr. Ismunandar, akademisi dan guru besar kimia asal Indonesia yang pernah menjabat sebagai Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO di Paris, Prancis, tampil sebagai pembicara utama dalam forum yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seminar menghadirkan sejumlah figur penting dari berbagai bidang, antara lain Rektor Universitas YARSI Prof. Dr. Fasli Jalal, So. GK., Ph. D, Perwakilan Kementrian Agama Dr. K.H. Muchlis M. Hanafi LC. MA, Perwakilan Kementrian Kebudayaan Endah Budi Heryani S.S. M.M, serta Gubernur Sumatera Barat H. Mahyeldi Ansharullah, S.P. Perspektif akademik dan kebudayaan turut disumbangkan Prof. H. Fauzi Bahar, M.Si., Prof. Yusuf Liu Baojun, Prof. Erwiza Erman, MA. Ph. D, Dr. Roni Tabroni, M.A., dengan Dr. Jef. Rizal Sofyan Guedi, S.H., M.I.C. sebagai moderator.

Sehari kemudian, Kamis, 27 Agustus 2026, Rangkayo Minang Indonesia melanjutkan agenda dengan seminar “Tokoh Minangkabau yang Mengubah Indonesia: Inspirasi Kepemimpinan Lintas Generasi melalui Tradisi Merantau, Dakwah, Kemandirian, Adaptasi, dan Jejaring Global.” Forum kedua memperluas pembicaraan dari sejarah dan peradaban menuju pertanyaan yang lebih mendasar: nilai apa yang membuat tokoh-tokoh Minangkabau mampu melampaui batas daerah dan memberi pengaruh terhadap perjalanan Indonesia.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menjadi salah satu figur sentral dalam forum tersebut. Kehadirannya membawa dimensi penting karena Sumatera Barat merupakan salah satu ruang utama tumbuhnya kebudayaan Minangkabau, sementara nilai-nilai seperti merantau, kemandirian, adaptasi, dakwah, dan kemampuan membangun jejaring terus menemukan relevansinya dalam kehidupan nasional.

Forum kedua juga menghadirkan Irman Gusman, S.E, MBA., H. Mahyeldi Ansharullah, S.P, Dr. Handa Satyanugraha Abidin S.H, LL.M, Ph. D., Dr. Elfa Hendri Mukhlis, MA., Asnimar, S. Kar., M. Sn., Ustadz Hadi Nur Ramadhan., M.Pd, dengan Dr. Jur. Rizal Sofyan Gueci, S.H., M.I.C. sebagai moderator.

Bagi Dr. Susilawati, dua seminar tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menjadikan sejarah dan kebudayaan sebagai sumber gagasan bagi masa depan. Ia melihat perjalanan tokoh-tokoh Minangkabau sebagai bukti bahwa keberanian merantau, kemandirian, tradisi intelektual, kemampuan berdakwah, serta kecakapan membangun jejaring dapat menjadi modal kepemimpinan yang melampaui ruang dan zaman.

“Seminar sebagai inspirasi kepemimpinan lintas generasi melalui tradisi merantau, dakwah, kemandirian, adaptasi, dan jejaring global,” ujar Susilawati.

Bagi Rangkayo Minang Indonesia, merantau memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar meninggalkan kampung halaman. Tradisi tersebut merupakan proses pembentukan manusia melalui pengalaman, keberanian menghadapi lingkungan baru, kemampuan beradaptasi, pembangunan jejaring, serta kesediaan membawa pulang pengetahuan dan pengalaman untuk memberi manfaat bagi masyarakat.

Semangat tersebut memiliki resonansi kuat pada abad ke-21, ketika teknologi, mobilitas manusia, kompetisi global, dan perubahan sosial bergerak semakin cepat. Dalam konteks tersebut, warisan budaya hanya akan tetap hidup apabila mampu diterjemahkan menjadi nilai yang dapat membantu generasi baru menghadapi perubahan tanpa kehilangan akar identitasnya.

Sejarah Indonesia sendiri menyimpan banyak contoh mengenai daya jangkau pemikiran Minangkabau. Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Haji Agus Salim, Mohammad Yamin, Mohammad Natsir, Abdul Muis, Rohana Kudus, dan Hamka merupakan sejumlah nama yang memperlihatkan bagaimana gagasan yang tumbuh dari lingkungan Minangkabau dapat memberi pengaruh terhadap politik, pendidikan, agama, pers, sastra, diplomasi, dan pemikiran kebangsaan Indonesia.

Melalui seminar tersebut, Rangkayo Minang Indonesia berusaha menggeser cara pandang terhadap warisan budaya dari sekadar objek nostalgia menjadi sumber inspirasi. Sejarah tidak hanya diposisikan untuk mengenang siapa yang pernah berjasa, tetapi juga untuk memahami nilai yang memungkinkan seseorang membangun pengaruh, mengambil risiko, beradaptasi, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat luas.

Ketua Bidang Publikasi dan Humas Rangkayo Minang Indonesia, Drs. Asri Hadi, M.A., menegaskan bahwa forum “Tokoh Minangkabau yang Mengubah Indonesia” tidak dimaksudkan sebagai perayaan terhadap masa lalu semata. Menurutnya, pembicaraan mengenai tokoh-tokoh besar Minangkabau harus diarahkan pada upaya menemukan nilai yang dapat melahirkan kepemimpinan baru.

“Yang ingin kita bicarakan bukan hanya siapa tokoh Minangkabau yang pernah mengubah Indonesia, tetapi juga bagaimana nilai-nilai yang membuat mereka besar dapat menginspirasi lahirnya tokoh-tokoh baru pada masa mendatang,” kata Asri Hadi.

Gagasan tersebut menjadikan dua seminar Rangkayo Minang Indonesia sebagai ruang pertemuan antara memori kolektif dan tantangan masa depan. Pemerintahan, akademisi, agama, militer, kebudayaan, serta masyarakat sipil bertemu dalam satu panggung untuk membaca kembali nilai-nilai yang dapat memperkuat kepemimpinan Indonesia di tengah perubahan global.

Dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Kari Minang turut memperkuat penyelenggaraan kedua forum tersebut. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai Minangkabau dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yakni hubungan antara kebudayaan, sejarah, Islam, kepemimpinan, mobilitas global, dan pembentukan identitas kebangsaan.

Pada akhirnya, dua seminar yang berlangsung selama dua hari tersebut meninggalkan pesan bahwa kekuatan sebuah kebudayaan tidak hanya terletak pada kemampuannya mempertahankan masa lalu, tetapi juga pada keberaniannya menawarkan nilai bagi masa depan. Rangkayo Minang Indonesia, melalui kepemimpinan Dr. Susilawati dan keterlibatan tokoh-tokoh seperti Mahyeldi Ansharullah, berupaya membawa warisan Minangkabau ke ruang dialog yang lebih luas, dari ranah lokal menuju percakapan nasional dan global.

Minangkabau, dengan tradisi merantau, intelektualisme, dakwah, kemandirian, adaptasi, dan jejaringnya, pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang sebuah masyarakat yang pernah melahirkan banyak tokoh besar. Ia merupakan gagasan yang terus bergerak, sebuah warisan hidup yang dapat mengajarkan generasi baru bahwa identitas dan keterbukaan terhadap dunia bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan kekuatan yang dapat berjalan berdampingan.

(Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)

Berita Terkait

Kolonel Adm Yuli Afrizan: Dari Perbatasan Natuna, Siswa Harus Berani Bersaing
SMPN 1 Margahayu Gelar Sosialisasi Keamanan Pangan, Dorong Kantin Sehat dan Aman bagi Siswa
Sinergi Penegakan Hukum dan Pers GWI: Polres Serang Sambut Keterbukaan Informasi Publik*
Kepsek SMAN Plus Riau Luruskan Isu LKBB, Tegaskan Jaga Kepercayaan Sponsor
Silaturahmi LAMR Meranti Duduk Bersama Insan Pers Jaga Marwah Melayu
TTI Soroti Peserta Tender Rp20,686 Miliar Gugur karena STNK “Mati”
Serap Aspirasi Warga, Mestine Giawa Gelar Reses di Desa Ewo Kecamatan Lolomatua
Pemerintah Kabupaten Pringsewu & Pemkot Tangerang Selatan Jalin Kerjasama Replikasi SISGITA

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Pembangunan Jembatan Garuda di Pegagan Julu I Diharapkan Permudah Mobilitas Warga

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:37 WIB

Door to Door, Babinsa 03/Parongil Lakukan Pendataan Warga untuk Pengusulan Bantuan Sosial

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Penembakan Senapan Angin Terjadi Usai Perselisihan Minuman, Polsek Dolok Panribuan Amankan Pelaku Penganiayaan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:02 WIB

Razia Gabungan Polres Simalungun, Dishub dan Den Pom Jaring 16 Pelanggar Lalu Lintas di Parapat

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 14:59 WIB

Siaga Cuaca Ekstrem, Polres Simalungun Keluarkan Enam Imbauan Penting untuk Warga

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 14:53 WIB

Komitmen Berantas Narkoba, Polsek Bandar Huluan Gerebek Bekas Kedai di Wonorejo, Pengedar Sabu Ditetapkan Tersangka

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 14:50 WIB

Bhayangkari Peduli, Ketua Bhayangkari Simalungun Ny. Rani Hendri Barus Dampingi Kapolres Bagi Sembako di Jumat Berkah Mariah Jambi

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 14:45 WIB

Kembangkan Karakter Pemuda Lewat Olahraga, Kodim 0209/LB Sinergi Dukung Pembukaan Turnamen Sepak Bola Bupati Cup di Stadion Binaraga

Berita Terbaru