KUTACANE – agaranews.com// Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Pendopo Bupati Aceh Tenggara saat prosesi adat tepung tawar (peusijuk) untuk Fajar Muhammad Al Kahfi, putra tunggal Bupati Aceh Tenggara H. Muhammad Salim Fakhry dan Nurjanah Pasaribu, digelar pada Jumat malam menjelang Sabtu.

Acara yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, pejabat pemerintahan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK), serta jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak awal kegiatan, halaman Pendopo Bupati tampak dipadati para undangan yang datang untuk memberikan doa dan restu. Kehadiran berbagai kalangan tersebut menambah suasana keakraban dalam acara yang sarat dengan nilai adat, budaya, dan kekeluargaan itu.
Prosesi tepung tawar diawali oleh kakek dari pihak keluarga yang berasal dari Gayo Lues, H. Ibnu Hasim. Dengan penuh khidmat, ia memulai rangkaian adat sebagai bentuk doa dan harapan baik bagi Fajar Muhammad Al Kahfi.
Setelah prosesi pembuka tersebut, kegiatan dilanjutkan oleh para tamu undangan yang hadir. Satu per satu undangan turut mengikuti prosesi tepung tawar sebagai ungkapan doa, restu, serta harapan agar Fajar senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, kemudahan dalam menjalani kehidupan, dan keberkahan di masa mendatang.

Tepung tawar sendiri merupakan salah satu tradisi adat yang masih dijaga dan dilestarikan masyarakat Aceh. Tradisi ini tidak sekadar menjadi bagian dari sebuah seremoni, tetapi juga mengandung makna kebersamaan, penghormatan kepada keluarga, serta ungkapan rasa syukur melalui doa-doa yang dipanjatkan.

Di tengah suasana yang penuh keakraban, para tamu undangan tampak saling bersilaturahmi. Kehadiran pejabat daerah, anggota DPRA, DPRK, tokoh masyarakat, dan jajaran OPD memperlihatkan kuatnya hubungan kekeluargaan serta kebersamaan dalam momentum tersebut.
Kemariahan acara semakin terasa dengan penampilan grup Orkes Melayu Lebah Begantung yang turut menghibur para tamu undangan. Alunan musik Melayu menghadirkan suasana lebih semarak tanpa menghilangkan nuansa khidmat dari prosesi adat yang menjadi inti kegiatan.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa bersama. Seluruh hadirin memanjatkan doa agar Fajar Muhammad Al Kahfi senantiasa memperoleh perlindungan, keselamatan, kesehatan, serta menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.

Malam itu, Pendopo Bupati Aceh Tenggara bukan sekadar menjadi tempat berlangsungnya sebuah acara keluarga. Lebih dari itu, momentum tepung tawar tersebut menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam suasana adat, doa, dan kebersamaan.
Tradisi yang diwariskan turun-temurun itu kembali memperlihatkan bahwa nilai-nilai budaya dan kekeluargaan tetap memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat Aceh Tenggara. Ady






















