Aceh Singkil, agaranews.com- Krisis air bersih yang melanda masyarakat di tengah banjir besar kembali memicu sorotan tajam terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil. Ketua Forum Mahasiswa Aceh Singkil (FORMAS), Ahmad Fadil Lauser Melayu, menilai bahwa meskipun pemerintah telah menetapkan status tanggap darurat sejak akhir November, kondisi di lapangan menunjukkan warga masih harus memenuhi kebutuhan dasar mereka secara mandiri.
Banjir yang meluas di berbagai wilayah Aceh Singkil menyebabkan ribuan warga terdampak. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 2.591 jiwa (647 KK) terkena imbas, dengan sejumlah desa terisolasi akibat putusnya jalan dan jembatan. Situasi semakin memburuk karena adanya pemadaman listrik serta gangguan jaringan internet, sehingga warga kesulitan mengakses informasi dan bantuan.
Meski pemerintah mengklaim telah membuka posko bantuan, menerima donasi, dan menyalurkan logistik, FORMAS menilai langkah tersebut belum mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Status darurat sudah dipasang, tetapi rakyat masih harus bertahan dengan swadaya. Ini bukan salah cuaca, ini persoalan manajemen krisis yang rapuh,” tegas Ahmad Fadil selasa (2/12/2025)
Swadaya Pemuda Lebih Cepat dari Pemerintah
Salah satu bukti lemahnya respon pemerintah, kata Fadil, terlihat dari penyaluran 8.000 liter air bersih oleh pemuda Sidorejo ke Pulo Sarok dan Ujung Bawang. Seluruh proses mulai dari mobilisasi, BBM, hingga tenaga dikerjakan secara swadaya tanpa dukungan nyata dari pemerintah. Di dua lokasi tersebut, warga bahkan sempat berebut air karena sudah berhari-hari tidak mendapatkan suplai dari pihak terkait.
“Ketika rakyat turun tangan menyelesaikan masalah dasar seperti air minum, pemerintah seharusnya malu. Tugas negara itu melindungi rakyatnya, bukan membiarkan masyarakat saling berebut ember air,” ujarnya.
Bupati Turun ke Lapangan, Namun Distribusi Dinilai Tidak Merata
FORMAS juga menyoroti bahwa meskipun Bupati Aceh Singkil telah turun langsung meninjau lokasi banjir, distribusi bantuan masih belum menjangkau wilayah terdampak parah.
Jalur logistik yang terputus tidak diimbangi dengan solusi cepat seperti penambahan perahu evakuasi, pembukaan jalur alternatif, ataupun pengerahan personel untuk desa-desa yang terisolasi.
“Menetapkan status tidak cukup kalau kebutuhan dasar warga – air bersih – masih ditanggung pemuda desa dan donatur individu,” tambahnya.
FORMAS Desak Pemerintah Bertindak Cepat
FORMAS mendesak Pemkab Aceh Singkil untuk:
memperkuat distribusi air bersih ke seluruh titik terdampak,
membuka jalur darurat untuk mempercepat bantuan,
memastikan ketersediaan logistik yang memadai, serta
membuka data transparan terkait penerimaan dan penyaluran bantuan.
“Situasi hari ini bukan soal kurangnya bantuan dari rakyat. Yang kurang itu keberpihakan pemerintah kepada rakyatnya sendiri,” tutup Fadil.
Tim Redaksi agaranews.com@lga































