SINGKIL, agaranews.com – Krisis ekonomi melanda ribuan petani kelapa sawit swadaya di Kabupaten Aceh Singkil akibat anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) hingga lebih dari 36 persen, dari Rp2.700 menjadi Rp1.980 per kilogram. Kondisi ini memicu kecaman keras dari pengamat daerah, Budi Harjo, yang menilai Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil di bawah Bupati H. Safriadi (Oyon) bersikap pasif dan tidak berpihak pada rakyat kecil. Kritik tersebut disampaikan Budi dalam rilis persnya kepada awak media pada Kamis (28/5/2026).
Budi Harjo menuduh janji-janji Bupati untuk melindungi petani hanya berupa retorika politik tanpa aksi nyata. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah telah kehilangan wibawa di hadapan korporasi, berbeda dengan daerah lain seperti Riau atau Jambi yang mampu melakukan intervensi langsung melalui Satgas Pangan untuk menjaga stabilitas harga beli petani mandiri di kisaran Rp2.500–Rp2.800 per kilogram.
Ironisnya, penurunan harga ini terjadi bersamaan dengan lonjakan biaya produksi, seperti harga pupuk non-subsidi yang tembus Rp550.000 per karung. Hingga kini, Pemkab Aceh Singkil belum mengambil langkah taktis seperti memanggil manajemen Pabrik Kelapa Sawit (PKS) atau menurunkan tim pengawasan, sehingga petani dibiarkan berjuang sendirian menghadapi kebijakan harga sepihak dari pengepul dan pabrik.
Merespons situasi darurat ini, Budi Harjo menyampaikan empat tuntutan tegas kepada Bupati: menghentikan pencitraan, segera memanggil korporasi untuk evaluasi harga, menurunkan Satgas Pangan untuk mengaudit transparansi harga, serta menyuarakan aspirasi petani ke pemerintah pusat. Ia memperingatkan bahwa kelambanan pemerintah berpotensi melumpuhkan urat nadi ekonomi ribuan keluarga di Aceh Singkil. A
























